Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Takut Dibilang Cerewet Bikin Kamu Memilih Diam? Ini Dampaknya bagi Hubungan

2 Senin, 02 Nov 2026, 04:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
Takut Dibilang Cerewet Bikin Kamu Memilih Diam? Ini Dampaknya bagi Hubungan Takut Dibilang Cerewet Bikin Kamu Memilih Diam? Ini Dampaknya bagi Hubungan Doc: Antara
Ket. Ilustrasi - Mengutarakan pendapat di depan rekan kerja.

Jakarta – Ketakutan dianggap cerewet, mengganggu, atau sebagai pembuat masalah dapat membuat seseorang enggan menyampaikan pendapat dan kebutuhan dalam hubungan sosial. Kondisi ini berisiko membuat seseorang memendam perasaan demi mempertahankan penerimaan orang lain.

Psikoterapis Mark O’Connell, LCSW-R, dalam laman Psychology Today pada Sabtu (31/10), menjelaskan bahwa ketakutan tersebut kerap mendorong seseorang memilih diam demi menjaga hubungan dengan orang lain.

Menurut O’Connell, seseorang sering membayangkan berbagai kemungkinan buruk sebelum menyampaikan keberatan. Mereka khawatir membuat orang lain tersinggung, dianggap berlebihan, atau bahkan tidak lagi diterima dalam kelompok sosial.

Akibatnya, seseorang dapat mengesampingkan kebutuhan pribadi atau menyampaikan pendapat dengan nada meminta maaf. Padahal, sikap tersebut berisiko membuat persoalan yang perlu dibicarakan justru tidak terselesaikan.

O’Connell mengacu pada penelitian yang menunjukkan bahwa ketakutan kehilangan penerimaan sosial, mengalami penolakan, dan kesulitan menyesuaikan diri dapat mendorong seseorang menghindari konflik.

Ia juga merujuk pada konsep peneliti sosial Brené Brown yang membedakan fitting in dan belonging. Fitting in berarti menyesuaikan diri agar diterima kelompok, sedangkan belonging berarti merasa diterima tanpa harus mengubah jati diri.

Untuk menghadapi ketakutan tersebut, O’Connell menyarankan seseorang memahami tujuan sebelum menyampaikan pendapat. Seseorang perlu membedakan apakah pembicaraan bertujuan membangun komunikasi dan mencapai saling pengertian atau sekadar membuktikan bahwa dirinya benar.

Ia juga mendorong seseorang menyampaikan pengalaman dan kebutuhan pribadi secara terbuka tanpa mengharuskan orang lain memiliki pandangan yang sama.

Menurut O’Connell, mengakui pengalaman seseorang tidak selalu berarti menyetujui pandangannya. Dua orang dapat memiliki prioritas dan batasan berbeda, tetapi tetap saling menghormati.

O’Connell mengingatkan bahwa tidak semua orang akan menerima pendapat yang disampaikan. Karena itu, seseorang perlu mengevaluasi percakapan dan menetapkan batasan ketika menghadapi penolakan.

Keberanian menyampaikan hal yang dianggap penting, menurut dia, dapat membuka ruang bagi orang lain untuk melakukan hal serupa. Langkah tersebut juga membantu membangun hubungan yang lebih jujur, sehat, dan memberi ruang bagi setiap pihak untuk mengungkapkan kebutuhan tanpa harus kehilangan jati diri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
Luar Negeri
Perang Dagang AS-Tiongkok T...
Advertisement
Membanggakan! Tiwi/Fadia Juara Hylo Open 2026, Indonesia Bawa Pulang Satu Gelar dari Jerman

Membanggakan! Tiwi/Fadia Juara Hylo Open 2026, Indonesia Bawa Pulang Satu Gelar dari Jerman

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.