Kementerian Ekraf Pacu Kapasitas Digital Santri Solo Lewat Program Santri Matic
Minggu, 01 Nov 2026, 12:20 WIB | Oleh: Mohammad Zaki Alatas
Doc: Dok. Ist
JAKARTA – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperluas ekosistem ekonomi kreatif nasional berbasis pesantren melalui peluncuran program Santri Melek Teknologi (Santri Matic) di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, Sabtu (31/10). Berkolaborasi dengan Shopee Indonesia, program ini membekali 200 santri dari 22 pondok pesantren se-Solo Raya dengan keterampilan digital mutakhir guna mentransformasi potensi lokal menjadi komoditas ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa potensi 42 ribu pesantren dan hampir lima juta santri di Indonesia merupakan modal fundamental dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.
“Kreativitas para santri di pesantren sebenarnya tumbuh luar biasa. Pesantren memiliki akar budaya yang kuat berkaitan dengan sejarah daerahnya. Ketika kekuatan budaya tersebut disentuh dengan inovasi, teknologi, dan kreativitas, akan memberikan nilai ekonomi. Didukung dengan kedisiplinan yang ditanamkan dan keilmuan yang dijalankan sebetulnya platform digital juga bisa digunakan sebagai dakwah,” ujar Menteri Ekraf di Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, Jawa Tengah pada Sabtu (31/10).
Menurut Menteri Ekraf, kekayaan sejarah, tokoh lokal, serta tradisi pesantren berpotensi besar dikembangkan ke dalam subsektor ekonomi kreatif unggulan seperti penerbitan (komik dan novel), film, animasi, fesyen, kuliner, hingga merchandise.
“Kami ingin kemampuan santri sebagai kreator konten dan afiliator juga dapat membantu mengakselerasi produk-produk kreatif pesantren, baik fesyen, kuliner, modest fashion, maupun hasil kreativitas lainnya sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Maka, pelatihan ini tidak berhenti pada kegiatan satu hari, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan dan pembentukan komunitas alumni Santri Matic yang dapat terus berkembang,” jelas Menteri Ekraf.
Sebaiknya Anda baca juga:
Deputy Director Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang, menyampaikan komitmennya dalam menyediakan infrastruktur edukasi digital bagi ekosistem pesantren.
“Melalui kolaborasi ini, kami ingin memperluas akses serta literasi digital yang dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, termasuk para santri. Kami juga memiliki Kampus UMKM Shopee yang menyediakan kelas daring secara gratis dengan berbagai materi, mulai dari optimalisasi iklan, strategi mengikuti kampanye, hingga pengelolaan operasional usaha. Harapannya, pembelajaran ini dapat terus dimanfaatkan para santri untuk mengembangkan kemampuan dan usahanya,” ujar Balques.
Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto, menyambut positif kolaborasi strategis ini dan mendorong santri untuk menguasai rantai nilai industri kreatif secara mandiri.
“Santri jangan hanya menjadi reseller dari produk-produk ekonomi kreatif. Santri harus menjadi kreator produk ekonomi kreatif. Kami juga memiliki Program Santri Next Level untuk meningkatkan nilai tambah santri sehingga mereka tidak hanya menjadi pemain, tetapi juga mampu menjadi kreator dan membangun model bisnisnya sendiri,” tegas Respati Achmad.
Rangkaian pelatihan Santri Matic memberikan pembekalan teknis mengenai pemanfaatan Shopee Marketplace, strategi promosi, ShopeeFood, hingga Shopee Affiliate Program, lengkap dengan sesi praktik pembuatan konten digital bersama mentor industri dan inspirasi dari praktisi Shopee Affiliate, Salmah Haddad. Memulai perjalanan sebagai kreator afiliasi pada Desember 2021, Salmah berhasil menjadi kreator golden tick pada 2024, kemudian mengembangkan perannya dalam mengedukasi kreator lain hingga menjadi mentor Shopee pada 2026.
Program Santri Matic merupakan rintisan turunan dari payung program Generasi Melek Teknologi (Gen Matic) KemenEkraf yang berkomitmen melanjutkan pembinaan secara berkala, memastikan wirausaha berbasis pesantren dapat naik kelas dan bersaing di pasar digital global.
Salah satu peserta, Risyam, yang saat ini menjadi staf pengajar di Ma'had Ali Menara Quran Karanganyar dan telah aktif sebagai afiliator selama empat bulan mengaku mendapatkan banyak wawasan baru melalui kegiatan Santri Matic. Risyam menceritakan bahwa perjalanan menjadi afiliator sempat terhenti karena kehilangan motivasi untuk membuat konten, hingga akhirnya kembali mencoba setelah mendapatkan inspirasi dari teman yang lebih dahulu mengikuti jejaknya.
"Alhamdulillah, selama empat bulan menjadi afiliator, hasilnya cukup untuk menjadi penghasilan tambahan di luar gaji. Pelatihan hari ini juga keren karena banyak insight yang didapatkan. Apalagi kami bisa bertemu langsung dengan kreator konten, affiliator, dan belajar cara mereka bekerja secara digital atau sesuatu yang biasanya hanya kami lihat melalui media sosial,” tutur Risyam.
Melalui kolaborasi dengan Shopee Indonesia, para peserta memperoleh pembekalan mengenai pemanfaatan ekosistem digital untuk mendukung aktivitas ekonomi. Materi pelatihan mencakup Shopee Marketplace, strategi promosi, pengenalan program ShopeeFood, hingga Shopee Affiliate Program. Peserta juga mengikuti sesi interaktif pembuatan konten video yang didampingi mentor dan praktisi industri seperti dari tim Kampus UMKM Shopee.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!