Setelah 95 Tahun, Bata Ingin Bangkit di Indonesia dengan Strategi Bisnis Baru
📅 Minggu, 04 Okt 2026, 12:45 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA — Bata memasuki tahun ke-95 kehadirannya di Indonesia dengan agenda untuk membangun kembali bisnis di tengah persaingan industri alas kaki yang semakin ketat. Strategi perusahaan kini diarahkan pada penyederhanaan organisasi dan portofolio, penguatan produk, serta pengembangan kanal ritel dan digital.
Langkah tersebut menjadi penting bagi Bata setelah bisnis perusahaan di Indonesia menghadapi tekanan dalam beberapa tahun terakhir. PT Sepatu Bata Tbk (BATA), perusahaan yang mengoperasikan bisnis Bata di Indonesia, mencatat penjualan neto Rp298,25 miliar pada 2025, turun 35,2 persen dibandingkan Rp459,98 miliar pada 2024. Pada periode yang sama, perusahaan masih membukukan rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp116,23 miliar.
Kinerja tersebut melanjutkan tantangan yang sebelumnya dihadapi perusahaan. Pada 2024, BATA mencatat rugi usaha sekitar Rp145,05 miliar dan membukukan biaya restrukturisasi sekitar Rp124,08 miliar. Penjualan neto pada tahun tersebut juga turun menjadi sekitar Rp459,98 miliar dari Rp609,61 miliar pada 2023.
Kondisi tersebut menjadi latar bagi strategi baru yang kini dikedepankan Bata. Dalam kunjungannya ke Indonesia pada September 2026, Global CEO Bata Group Panos Mytaros mengatakan perusahaan sedang menjalankan transformasi global dengan fokus pada produk yang lebih relevan, organisasi yang lebih sederhana, serta cara kerja yang lebih efektif.
“Transformasi yang kami lakukan bukan tentang membuat Bata menjadi brand yang berbeda. Kami ingin menyederhanakan cara kami bekerja, menyederhanakan apa yang kami tawarkan, dan yang paling penting, memastikan produk yang kami hadirkan benar-benar memberikan nilai bagi konsumen,” ujar Panos.
Produk dan Efisiensi Jadi Fokus
Menurut Panos, salah satu perubahan utama yang dilakukan Bata adalah simplifikasi. Perubahan tersebut mencakup portofolio produk, organisasi, proses kerja, hingga cara perusahaan hadir di hadapan konsumen.
Strategi itu pada dasarnya diarahkan untuk membuat perusahaan lebih fokus setelah menghadapi tekanan bisnis dalam beberapa tahun terakhir. Dengan portofolio yang lebih sederhana, Bata ingin memastikan setiap kategori produk memiliki proposisi yang jelas dari sisi desain, kenyamanan, kualitas, dan harga.
Panos menilai konsumen saat ini memiliki semakin banyak pilihan produk footwear. Kondisi tersebut membuat perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan sejarah merek, tetapi perlu memberikan alasan yang jelas bagi konsumen untuk membeli produknya.
“Konsumen Indonesia memang berubah. Mereka semakin digital, mendapatkan lebih banyak informasi, dan memiliki lebih banyak pilihan. Tetapi ada hal yang tidak berubah: mereka ingin mendapatkan value yang baik, harga yang masuk akal, dan pilihan,” katanya.
Perubahan perilaku konsumen juga menjadi alasan Bata memperkuat kanal digital. Platform online diposisikan sebagai salah satu jalur untuk menjangkau konsumen, sementara toko fisik tetap menjadi bagian dari strategi ritel perusahaan.
Pasar Alas Kaki Indonesia Masih Tumbuh
Strategi pemulihan Bata berlangsung ketika industri alas kaki Indonesia secara keseluruhan justru menunjukkan prospek yang relatif kuat.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat industri alas kaki menyumbang 1,2 persen terhadap PDB industri pengolahan pada kuartal III 2025 dan menyerap sekitar 921 ribu tenaga kerja per Februari 2025. Nilai ekspor industri alas kaki Indonesia pada 2024 juga tumbuh 13,13 persen menjadi sekitar US$7,28 miliar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!