Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

IHCBS 2026 Dorong AI Berpusat pada Manusia untuk Produktivitas

📅 Jumat, 18 Sep 2026, 17:15 WIB | Oleh:
IHCBS 2026 Dorong AI Berpusat pada Manusia untuk Produktivitas Doc: Dok. Istimewa

JAKARTA – Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mendorong perubahan besar dalam cara organisasi bekerja, mengelola talenta, dan meningkatkan produktivitas. Namun, pemanfaatan teknologi tidak cukup hanya berorientasi pada kecepatan dan efisiensi. Kesiapan manusia, kepemimpinan, budaya organisasi, serta kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting agar transformasi digital menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 yang berlangsung pada 15–16 September 2026 di NICE PIK 2, Tangerang. Mengusung tema “Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity”, forum ini mempertemukan sekitar 6.000 peserta dari sektor swasta, pemerintahan, akademisi, dan praktisi human capital.

IHCBS 2026 menghadirkan lebih dari 70 pembicara nasional dan internasional untuk membahas perubahan dunia kerja, pengembangan kompetensi, kepemimpinan, produktivitas, hingga strategi organisasi menghadapi perkembangan AI.

Forum yang diinisiasi Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK), OneGML, QuBisa, dan Kontan tersebut menempatkan pendekatan human-centric sebagai salah satu pesan utama. Teknologi dipandang bukan sekadar alat untuk menggantikan pekerjaan, melainkan sarana untuk memperkuat kapasitas manusia dan mendesain ulang cara organisasi bekerja.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam sesi Grand Keynote bertajuk “Closing the ASEAN Gap: A 'People Centered' Policy Framework for National Competitiveness” menekankan pentingnya kebijakan yang berpusat pada manusia dalam memperkuat daya saing nasional.

Menurut Yassierli, perubahan teknologi dan AI membawa konsekuensi terhadap struktur pekerjaan sekaligus kebutuhan kompetensi tenaga kerja. Karena itu, penerapan AI perlu dibarengi strategi pengembangan manusia. Untuk itu empat prinsip People-Centric AI, yakni memperkuat kemampuan manusia, melibatkan pekerja dalam proses transformasi, menjaga kendali manusia, serta mempersiapkan pekerja menghadapi perubahan.

Pendekatan tersebut menempatkan AI sebagai teknologi yang memperkuat manusia. Sebab, perubahan yang terjadi di dunia kerja tidak selalu berarti hilangnya pekerjaan, tetapi juga munculnya cara kerja dan tuntutan kompetensi baru. “Rather than simply replacing job, AI is reshaping them in fundamentally different ways,” ujar Yassierli.

Pandangan tersebut sejalan dengan pembahasan Paul Choo, CHRO Bridgestone Asia Pacific, dalam sesi International Inspire bertajuk “Best Practices of Human Centric Practices: an Asia Pacific Perspective.”

Paul menjelaskan, AI dapat menjadi enabler untuk mendesain ulang pekerjaan dan organisasi. Karena itu, transformasi perlu mencakup peningkatan kapasitas tenaga kerja, transformasi fungsi HR, desain ulang pekerjaan dan alur kerja, serta perubahan budaya dan kepemimpinan. “AI doesn’t simply change jobs. It changes how workflows through the organizations. You need to redesign around Human and AI,” kata Paul.

Perspektif penguatan kapasitas manusia juga muncul dalam sesi National Inspire bersama Managing Director HC Danantara Aset Manajemen Agus Dwi Handaya melalui topik “PeopleMath = Formula Transformasi Future Ready Workforce, Korporasi dan Bangsa.”

Agus memperkenalkan pendekatan PeopleMath untuk melihat kinerja manusia secara lebih menyeluruh. Menurut dia, pengukuran kinerja tidak cukup hanya berfokus pada angka, tetapi juga perlu memperhatikan pertumbuhan manusia dan nilai yang diwariskan dalam organisasi. “Angka menunjukkan apa yang kita capai, manusia yang bertumbuh menunjukkan apa yang kita wariskan,” ujarnya.

Sementara itu, Jonathan Tahir, President Commissioner Mayapada Healthcare, dan Pushkar Saran, Executive Director ETS for Institutional Programs in Southeast Asia, menyoroti pentingnya menyesuaikan standar global dengan kebutuhan nasional.

Menurut Jonathan, praktik terbaik dari luar negeri tidak selalu dapat diterapkan secara langsung. Organisasi perlu menyesuaikan standar global dengan konteks lokal agar menghasilkan daya tahan dan kapasitas yang relevan.

Pembahasan mengenai ketahanan organisasi kemudian dilanjutkan Sutanto Hartono, Managing Director PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK), melalui topik “The Resilience Factor: Building a Resilient Mindset and an Outcome-Based Work Culture in the Era of Transformation.”

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Nilam Butuh Terobosan, ARC USK Dorong SRG Jadi Solusi Tata Niaga
    Penerapan SRG nilam sangat krusial bagi sektor manufaktur ...
  • Impor Pelumas RI Tembus Ribuan Ton, Menperin Resmikan Pabrik Raksasa Shell, Libatkan 50 Vendor Lokal
    Kehadiran fasilitas produksi berkapasitas 12.000 ton per tahun ...
  • Pameran Fi Asia Indonesia 2026 Perluas Akses Industri terhadap Teknologi Pangan Global
    Ulasan yang sangat mencerahkan terutama pada pandangan Dr. ...
  • Wali Kota: Pemkot Bandung Dorong Industri Sepatu Perluas Pasar Ekspor
    Langkah strategis Pemkot Bandung menyoroti urgensi Surat Keterangan ...
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Orang kepercayaan Menterinya aja kena OTT KPK ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar

Sekolah di Yogyakarta Harus Aman dan Nyaman

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Sekolah di Yogyakarta Harus...
Luar Negeri
Perkampungan Atlet Asian Ga...
Rona
IHCBS 2026 Dorong AI Berpus...

Piala Davis, Indonesia Tertinggal 0-1 dari Rumania

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Davis, Indonesia Tert...

Menhub Bebas Tugaskan Dirjen Perhubungan Laut

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Menhub Bebas Tugaskan Dirje...
Advertisement
Menhub Bebas Tugaskan Dirjen Perhubungan Laut

Menhub Bebas Tugaskan Dirjen Perhubungan Laut

18 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.