BNN Gaungkan Perang Melawan Narkoba Lewat Seni Sunda
📅 Selasa, 15 Sep 2026, 15:30 WIB | Oleh: Ilham SudrajatBANDUNG - Upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba melalui pendekatan seni dan budaya mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Bandung.
Hal itu ditunjukkan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, saat menghadiri Grand Final Pasanggiri Agung Kawih Sinom “Narkoba Musuh Bangsa” yang digelar Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Barat di Gedung Pusat Kebudayaan, Jalan Naripan Kota Bandung, Senin (14/9).
Kegiatan yang memadukan seni tradisional Sunda dengan kampanye antinarkoba tersebut menjadi ruang edukasi kreatif bagi pelajar dan masyarakat untuk menyuarakan penolakan terhadap narkoba melalui seni kawih sinom.
Wali Kota Farhan mengapresiasi inisiatif Kepala BNN Provinsi Jawa Barat, Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, yang dinilainya berhasil menghadirkan pendekatan berbeda dalam upaya pencegahan narkoba.
“Saya sangat menghargai apa yang dilakukan oleh Kepala BNN Provinsi. Beliau juga ternyata seorang seniman. Saya insyaallah izin untuk mempelajarinya. Kami akan membawa ini ke Dinas Pendidikan Kota Bandung agar bisa dijadikan sebagai muatan lokal,” ujar Wali Kota Farhan.
Menurut dia, pendekatan budaya menjadi salah satu cara efektif untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada generasi muda sejak dini. Terlebih, pelajar di Kota Bandung selama ini memiliki tradisi kuat dalam mengikuti berbagai pasanggiri dan kompetisi seni budaya Sunda.
Wali Kota Farhan mengatakan sekolah-sekolah di Kota Bandung, baik tingkat SD maupun SMP, aktif mengikuti berbagai lomba pasanggiri hingga tingkat Jawa Barat. Karena itu, konsep edukasi antinarkoba melalui kawih sinom dinilai memiliki potensi besar untuk diterapkan di lingkungan pendidikan.
“Insyaallah mudah-mudahan ini bisa kita jadikan sebagai bagian dari muatan lokal di sekolah masing-masing,” kata dia.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Farhan juga menyoroti peran keluarga dan sekolah dalam mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Langkah pencegahan harus dimulai dengan mengelola dua faktor utama yang kerap mendorong anak muda mencoba hal-hal berisiko, yakni rasa ingin tahu dan tekanan pergaulan atau fear of missing out (FOMO).
“Hal pertama yang mesti dilakukan dalam menanggapi masalah ini di kerangka pencegahan dini adalah bagaimana kita bisa mengendalikan rasa ingin tahu para remaja. Nomor dua, peer pressure atau tidak mau ketinggalan dengan orang lain. Jadi ada dua, rasa ingin tahu dan FOMO,” ujar dia.
Wali Kota Farhan menjelaskan, kedua faktor tersebut sebenarnya dapat menjadi potensi positif apabila diarahkan pada hal-hal yang membangun, seperti prestasi dan pengembangan diri. Namun, tanpa pengawasan yang baik, rasa ingin tahu dan FOMO juga dapat menjadi pintu masuk penyalahgunaan narkoba.
“Para orang tua di keluarga terutama itu jadi gerbang pertama untuk bisa mengendalikan rasa ingin tahu dan juga FOMO dari anak-anak kita,” tutur dia.
Ia mencontohkan, rasa ingin tahu sering kali muncul karena ajakan atau pengaruh lingkungan pergaulan. Sedangkan FOMO membuat sebagian remaja takut dianggap berbeda ketika menolak ajakan negatif dari teman sebayanya.
“Ketika FOMO nanti kan enggak enak dibilangin, ‘Ah payah lu enggak ngerokok, ah payah lu enggak pakai’. Nah itu yang harus dikelola dengan sangat baik, baik oleh keluarga maupun oleh sekolah. Itu tantangan terbesarnya,” kata Wali Kota Farhan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!