Ketika Musim Hujan Telat Datang, Bukan Persoalan Kapan Hujan Turun, Tapi Seberapa Siap Kota Menunggu
📅 Senin, 14 Sep 2026, 18:24 WIB | Oleh: OpikSURABAYA - Bagi kota besar, hujan bukan sekadar perubahan cuaca, melainkan fenomena yang menyentuh segala aspek mulai dari air keran, suhu jalan, kondisi ruang terbuka, dan risiko kebakaran, hingga kemampuan pemerintah dalam menjaga layanan dasar.
Karena itu, ketika musim hujan berpotensi datang lebih lambat, persoalannya bukan hanya kapan hujan turun, tetapi seberapa siap kota menunggu.
Kota Surabaya, Jawa Timur kini menghadapi fase tersebut. Pemerintah kota bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi El Nino yang diprakirakan bertahan hingga Februari 2027. Dampaknya dapat berupa kondisi lebih kering dan kemunduran awal musim hujan.
Peringatan tidak berhenti pada urusan cuaca. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya mengingatkan meningkatnya risiko kebakaran, paparan panas, dehidrasi, dan tekanan terhadap ketersediaan air bersih. Edukasi dilakukan melalui sekolah, pesantren, lingkungan warga, hingga media sosial.
El Nino 2026 diprediksi bertahan setidaknya hingga awal kuartal I 2027 dengan puncak intensitas melebihi kategori kuat. September menjadi periode penting karena sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau, dengan curah hujan rendah yang diprakirakan masih mendominasi sejumlah wilayah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Artinya, masyarakat tidak sedang diminta menunggu hujan secara pasif. Jeda musim harus dihadapi dengan kesiapan agar kondisi kering tidak berkembang menjadi persoalan pelayanan dasar.
Menjaga air
Persoalan pertama adalah air. Ketika curah hujan berkurang, tekanan tidak selalu langsung terlihat sebagai kekeringan. Dampaknya dapat muncul melalui berkurangnya cadangan air, meningkatnya kebutuhan rumah tangga, dan bertambahnya beban menjaga pasokan.
BMKG memprakirakan September hingga November 2026 secara umum mengalami curah hujan rendah hingga menengah dengan sifat hujan bawah normal hingga normal. Di Jawa Timur, El Nino juga berpotensi menurunkan curah hujan pada periode Juni hingga November 2026.
Bagi Surabaya, kondisi itu perlu diantisipasi karena kepadatan permukiman, aktivitas ekonomi, kebutuhan rumah tangga, dan fasilitas publik membuat gangguan pasokan air mudah meluas menjadi persoalan sosial.
Karena itu, hemat air perlu diterjemahkan menjadi kebijakan konkret. Pemerintah perlu memantau wilayah rentan, memastikan distribusi air bagi kelompok yang membutuhkan, serta menyampaikan informasi mengenai kondisi pasokan secara berkala.
Masyarakat juga memiliki peran. Penggunaan air seperlunya, memperbaiki kebocoran, serta mengurangi pemborosan merupakan langkah sederhana yang menjadi penting jika dilakukan bersama-sama.
Ruang resapan dan vegetasi pun harus dijaga. Kota tidak hanya membutuhkan air ketika hujan turun, tetapi juga kemampuan menyimpan dan mengelolanya ketika hujan kembali datang.

Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!