Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pendistribusian Air Bersih di 12 Desa Terdampak Kekeringan di Lumajang

📅 Kamis, 10 Sep 2026, 22:27 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pendistribusian Air Bersih di 12 Desa Terdampak Kekeringan di Lumajang Doc: Antara
Ket. Petugas BPBD Lumajang mendistribusikan air bersih di salah satu desa yang terdampak kekeringan di Lumajang.

Lumajang - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang mendistribusikan air bersih di 12 desa yang tersebar di empat kecamatan yang terdampak kekeringan saat musim kemarau, karena sumber air mulai menyusut dan persediaan air hujan di tandon warga berangsur habis.

"Hingga 10 September 2026, sebanyak 14.809 warga di 12 desa di empat kecamatan tercatat terdampak krisis air bersih. Bantuan air telah disalurkan secara bertahap melalui 191 titik distribusi sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan," kata Kabid Kedaruratan BPBD Kabupaten Lumajang Yudhi Cahyono, Kamis.

Menurut dia, kebutuhan air bersih menjadi persoalan yang harus segera dijawab, sehingga BPBD terus memperkuat layanan distribusi air bersih agar kebutuhan dasar warga di wilayah terdampak tetap terpenuhi dan memastikan masyarakat tetap memperoleh pasokan air selama musim kemarau.

“Kami terus melakukan droping air bersih ke wilayah yang terdampak. Distribusi dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat dan kondisi di lapangan, sehingga kebutuhan air bersih tetap bisa terpenuhi,” katanya.

Ia mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi menurunnya debit sejumlah sumber air yang biasa digunakan masyarakat dan persediaan air hujan yang sebelumnya ditampung warga dalam tandon juga mulai habis.

Kondisi itu membuat distribusi air bersih menjadi salah satu layanan penting selama kemarau, sehingga bantuan diarahkan ke wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air, sehingga masyarakat tetap memiliki akses untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Untuk memperkuat penanganan, Pemkab Lumajang telah menetapkan masa tanggap darurat kekeringan, krisis air bersih, dan kebakaran hutan selama 90 hari, mulai 10 Juli hingga 7 Oktober 2026.

BPBD juga memetakan potensi kekeringan yang dapat terjadi di 19 desa pada enam kecamatan, sehingga pemetaan tersebut menjadi dasar kesiapsiagaan sekaligus membantu menentukan wilayah yang perlu mendapatkan perhatian dan dukungan lebih cepat.

Sementara itu, berdasarkan prediksi BMKG, curah hujan pada September hingga November 2026 masih berada dalam kriteria rendah. Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah terus memperkuat mitigasi dan pelayanan dasar agar masyarakat di wilayah rawan kekeringan tetap mendapatkan dukungan selama periode kemarau.

Bagi warga yang sumber airnya mulai terbatas, distribusi tersebut menjadi bentuk kehadiran pemerintah untuk memastikan kebutuhan dasar tetap terlayani. Penanganan juga terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan agar bantuan dapat diberikan kepada wilayah yang benar-benar membutuhkan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Luar Negeri
Nepal Butuh 4,77 Miliar Dol...
Advertisement
Benarkah Ada Sesar Aktif di Surabaya? Ini Penjelasan Pakar Geologi ITS

Benarkah Ada Sesar Aktif di Surabaya? Ini Penjelasan Pakar Geologi ITS

10 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.