Hope: Dua Jam Tahan Napas saat Monster Alien Membantai Desa Terpencil Dekat Zona Demiliterisasi Korea
📅 Rabu, 09 Sep 2026, 21:38 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SCerita mengenai asal-usul makhluk dan alasan di balik berbagai peristiwa baru mendapatkan porsi lebih besar menjelang bagian akhir. Festival Cannes sendiri merangkum premisnya sebagai tragedi yang bermula dari ketidaktahuan, kemudian berkembang melalui konflik antarmanusia menjadi bencana berskala kosmik.
Namun mungkin satu-satunya kekurangan di karya ini adalah soal visual CGI monster alien yang ada. Saat makhluk-makhluk tersebut muncul dalam kelebatan cepat, atau suasana pencahayaan yang suram, visualisasinya memang sangat menyeramkan dan nyata. Namun pada scene-scene jarak dekat dalam cahaya terang, penampakan alien Na Hong-jin ini kurang nyata karena tampak jelas merupakan hasil komputer grafis.
Namun karena adegan yang menampilkan suasana terang tidak banyak, dan memang detil sosok monsternya nyaris sempurna mengerikan, kekurangan-kekurangan tersebut cukup terobati. Apalagi dalam beberapa scene, sosok monster yang ada ditampilkan dalam Creature prop (properti fisik berbentuk makhluk/monster) detil yang sangat berkelas.
Brutal, tetapi masih punya humor
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski dipenuhi kekerasan, Hope tidak sepenuhnya mengambil nada serius.
Na menyisipkan humor di tengah kekacauan. Beberapa karakter bahkan digambarkan dengan sisi yang konyol dan tidak selalu terlihat seperti pahlawan film monster pada umumnya.
Humor tersebut menjadi penyeimbang bagi adegan-adegan brutal. Film tidak terus-menerus memaksa penonton berada dalam suasana gelap. Di antara kejar-kejaran, pembantaian, dan kehancuran, muncul sejumlah momen yang cukup segar tanpa terasa seperti komedi yang ditempelkan secara paksa.
Karakter Bum-seok yang diperankan Hwang Jung-min menjadi salah satu sumber energi tersebut. Sementara Zo In-sung berperan sebagai Sung-ki, pemburu yang ikut berhadapan dengan makhluk tersebut, dan Jung Ho-yeon tampil sebagai polisi Sung-ae. Film ini juga menghadirkan Michael Fassbender, Alicia Vikander, Taylor Russell, dan Cameron Britton.
Na Hong-jin memilih spektakel
Yang membuat Hope menarik adalah keberanian Na Hong-jin mengubah pendekatan yang selama ini dikenal dari film-film sebelumnya.
Jika The Chaser, The Yellow Sea, dan The Wailing lebih dikenal melalui atmosfer gelap, kriminalitas, misteri, dan horor psikologis, Hope bergerak jauh lebih besar.
Ini adalah film monster, sci-fi, horor, aksi, sekaligus komedi gelap.
Kameramen Hong Kyung-pyo, yang juga menggarap Parasite dan Snowpiercer, memberikan skala visual yang membuat pengejaran dan kehancuran desa terasa lebih besar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!