Pakan Mahal Jadi Masalah, TEP IPB Bawa Jurus Maggot ke Salor
📅 Jumat, 04 Sep 2026, 19:05 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Budidaya maggot mulai dilirik bukan sekadar sebagai solusi mengurangi sampah organik, tetapi juga sebagai peluang ekonomi berbasis ekonomi sirkular.
Larva Black Soldier Fly (BSF) mampu mengurai limbah organik sekaligus menghasilkan biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan, sementara residunya dapat digunakan sebagai pupuk organik.
Di tengah meningkatnya kebutuhan pengelolaan sampah yang berkelanjutan, pengembangan budi daya maggot membuka ruang bagi masyarakat untuk mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah menjadi komoditas bernilai.
Tantangannya kini bukan hanya memperbanyak produksi, tetapi memastikan budidaya dikelola secara konsisten agar manfaat lingkungan dan nilai ekonominya sama-sama optimal.
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Pertanian Bogor (IPB) University mengembangkan budi daya maggot atau belatung sebagai pakan alternatif serta pengolahan abon lele di Kawasan Transmigrasi Salor, Merauke, Papua Selatan, untuk menekan biaya budi daya dan meningkatkan nilai tambah hasil perikanan.
Pengembangan tersebut melibatkan sekitar 40 warga transmigran dan Orang Asli Papua (OAP) yang tergabung dalam tiga gabungan kelompok tani (gapoktan), dengan pelatihan meliputi budi daya lele dan pengembangbiakan maggot Black Soldier Fly (BSF).
“Program abon ini sendiri berangkat dari kasus harga pakan yang lumayan mahal di sini untuk lele. Makanya, kami bawa inovasi pakan alternatif menggunakan maggot,” kata anggota TEP IPB University Noval dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Jumat (4/9).
Menurut Noval, pengembangan pakan alternatif tersebut berjalan bersamaan dengan pengolahan lele menjadi abon agar hasil budi daya dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah.
Untuk menjaga ketersediaan bahan bagi budi daya maggot, tim bekerja sama dengan sejumlah rumah makan di sekitar Salor untuk menyediakan ember penampung limbah organik.
Limbah organik tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai sumber pakan larva maggot. Setiap gapoktan berkoordinasi melalui ketua kelompok masing-masing untuk menjaga keberlangsungan proses budi daya.
Maggot hasil budi daya dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi lele. Tim juga merencanakan pemasarannya kepada peternak di sekitar Salor, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Selain mengembangkan pakan alternatif, TEP IPB mendampingi upaya memperpendek rantai distribusi lele agar pembudidaya memperoleh akses penjualan tanpa melalui pengepul.
Tim juga mendampingi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pengolah abon dalam proses menuju sertifikasi halal, sedangkan pemasaran produk abon lele direncanakan dikembangkan melalui kanal digital dan situs web khusus.
Kementerian Transmigrasi menyebut program tersebut dirasakan langsung oleh warga penerima manfaat. Ketua UMKM Warung Ola Indah Katharina Wona mengatakan pelatihan tersebut memberikan pilihan bagi masyarakat untuk mengolah ikan menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!