Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kerugian Karhutla Rp123 Triliun, RI Didesak Evaluasi Mitigasi

📅 Kamis, 03 Sep 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kerugian Karhutla Rp123 Triliun, RI Didesak Evaluasi Mitigasi Doc: ANTARA/Bayu Pratama S
Ket. Pengendara sepeda motor melintas di Jalan Gubernur Syarkawi yang tertutup kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (2/9). Kabut asap akibat karhutla berdampak pada terbatasnya jarak pandang bagi pengguna jalan nasional yang menjadi jalur penghubung Provinsi.

Pemerintah didorong membentuk tim pemulihan ekosistem dan mengevaluasi usaha penyebab kebakaran.

JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026 dinilai tidak lagi dapat dipandang semata sebagai bencana akibat cuaca ekstrem. Pemerintah didorong memperkuat mitigasi, mengevaluasi izin usaha, serta memperketat pengawasan pengelolaan lahan untuk menekan risiko kebakaran dan potensi kerugian ekonomi yang dapat mencapai ratusan triliun rupiah.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan faktor cuaca bukan satu-satunya penyebab karhutla. Kerentanan lahan gambut dan aktivitas korporasi juga perlu menjadi perhatian pemerintah.

"Karhutla bukan semata anomali cuaca Super El-Nino, tapi juga ulah korporasi, rentannya lahan gambut akibat industri ekstraktif menjadi pemicu utama, sementara kekeringan panjang hanyalah pra-kondisi," kata Bhima, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta, Rabu (2/9).

Menurut Bhima, perubahan pola karhutla yang mulai menjangkau wilayah di luar episentrum kebakaran selama ini menunjukkan perlunya penyesuaian strategi pencegahan.

Ia menilai strategi pemerintah selama ini terlalu berfokus pada moratorium izin di lahan gambut Sumatra dan Kalimantan. Sementara itu, data 2026 menunjukkan ancaman kebakaran mulai merambah kawasan gambut di Papua Selatan.

Besarnya dampak karhutla terlihat dari kajian Celios yang memperkirakan total biaya ekonomi dan kesehatan akibat karhutla sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai sekitar 39,29 triliun hingga 123,1 triliun rupiah.

Direktur Ekonomi Celios Nailul Huda mengatakan angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga ancaman terhadap ketahanan ekonomi nasional.

“Angka Rp123,1 triliun ini setara 49,1 persen dari proyeksi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Tengah tahun 2026,” jelas Huda.

Dalam perhitungannya, kerugian ekonomi akibat hilangnya aset fisik dan terganggunya aktivitas perdagangan, pertanian, akomodasi, serta makanan dan minuman mencapai 29,54 triliun rupiah atau sekitar 0,23 persen dari PDB nasional.

Kalimantan Barat mencatat dampak nominal terbesar, yakni 5,7 triliun rupiah, disusul Papua Barat 4,3 triliun rupiah dan Nusa Tenggara Timur 2,8 triliun rupiah.

Celios juga memperkirakan karhutla berpotensi mengurangi penerimaan negara dari pajak bersih daerah sekitar 269,86 miliar rupiah. Dampak tersebut dapat menjalar melalui keterkaitan antarsektor, termasuk industri pengolahan kayu, pulp and paper, hingga furnitur.

Dari sisi kesehatan, Celios memperkirakan sekitar 1,78 juta orang berpotensi terdampak ISPA dengan total biaya kesehatan sekitar 9,75 triliun rupiah.

Efek Berantai

Secara terpisah, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan dampak ekonomi karhutla dapat jauh lebih besar daripada nilai lahan atau hutan yang terbakar.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kemenperin akan Gunakan Nilai Tambah untuk Ukur Kinerja Manufaktur
    Keberhasilan Indonesia menempati peringkat ke-12 dunia sekaligus memimpin ...
  • Kemenperin akan Arahkan Industri 2027 pada Hilirisasi dan Industri Hijau
    Prestasi Indonesia yang berhasil naik ke peringkat 12 ...
  • Pria tanpa identitas Tewas Tersengat Listrik saat Curi Kabel LRT
    Wajar sih kalau mati, justru aneh klo tidak ...
  • Meski Melambat, Industri Tetap Ekspansi! Kemenperin: Ini 2 Sektor Paling Moncer
    Meskipun data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 ...
  • Kawasan Industri Tak Lagi Kompetitif, Investor Mulai Melirik Vietnam
    Meskipun banyak pabrik di Indonesia kini mulai beralih ...
Olahraga
Ferrari Kenang 30 Tahun Sch...
Olahraga
Asian Games 2026, PBVSI Pan...
Advertisement
Ratusan Petani Tebu Gelar Aksi Dekat Istana Negara, Tuntut Kenaikan HPP dan Hapus HET Gula

Ratusan Petani Tebu Gelar Aksi Dekat Istana Negara, Tuntut Kenaikan HPP dan Hapus HET Gula

02 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.