Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Harga Bahan Pokok Melonjak, NTP Kaltim Justru Naik! Ada Apa?

📅 Kamis, 03 Sep 2026, 06:35 WIB | Oleh:
Harga Bahan Pokok Melonjak, NTP Kaltim Justru Naik! Ada Apa? Doc: Antara foto
Ket. Komoditas daging dijual di Pasar Segiri Samarinda, Kaltim.

SAMARINDA - Nilai tukar petani (NTP) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada Juli 2026 terdongkrak ke level 147,46 berkat kenaikan harga sejumlah bahan pokok seperti daging ayam ras, cabai rawit, cabai merah, kacang panjang, beras, jagung manis, dan beberapa jenis ikan laut.

Sementara, peningkatan harga terjadi akibat naiknya permintaan konsumen dan terbatasnya pasokan, akibat pasokan sejumlah komoditas pangan dari sentra produksi dipengaruhi fenomena El Nino yang menyebabkan pasokan ikan terbatas hingga tanaman kekurangan air.

"Nilai tukar petani (NTP) Kaltim pada Agustus 2026 sebesar 147,46 atau naik 0,48 persen dibandingkan dengan NTP pada Juli 2026," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltim Mas'ud Rifai di Samarinda, Kaltim, Rabu.

Jika dilihat NTP pada masing-masing subsektor, maka nilai tukar petani tanaman pangan (NTPP) sebesar 103,11, nilai tukar petani hortikultura (NTPH) 119,95, nilai tukar petani tanaman perkebunan rakyat (NTPR) sebesar 205,47.

Kemudian, nilai tukar petani peternakan (NTPT) sebesar 108,35, serta nilai tukar nelayan dan pembudi daya ikan (NTNP) pada Agustus sebesar 104,52.

Pada Agustus 2026, lanjutnya, terdapat tiga subsektor pertanian yang mengalami kenaikan NTP yaitu subsektor hortikultura naik 1,77 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat 0,72 persen, dan subsektor peternakan naik 0,35 persen.

Sebaliknya, dua subsektor mengalami penurunan NTP yaitu subsektor tanaman pangan minus 0,16 persen dan subsektor perikanan minus 1,26 persen.

Segaris dengan NTP, maka nilai tukar usaha pertanian (NTUP) pada Agustus 2026 menjadi 152,30 atau naik 0,38 persen dibandingkan dengan NTUP pada Juli 2026 yang tercatat 151,73.

Terdapat pula tiga subsektor yang mengalami kenaikan NTUP yaitu subsektor hortikultura naik 1,55 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat 0,58 persen, dan subsektor peternakan sebesar 0,18 persen.

Sebaliknya, dua subsektor pertanian mengalami penurunan, yaitu subsektor tanaman pangan minus 0,19 persen dan subsektor perikanan minus 1,19 persen.

NTP, katanya, merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat daya beli petani di wilayah perdesaan.

Angka itu dihitung dengan membandingkan antara indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani.

"NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat daya beli petani," kata Rifai.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
Advertisement
jjroyal-luwak
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Pengguna Transportasi Umum ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Hasil Liga Champions: PSG Kokoh di Puncak Klasemen Usai Hancurkan Barcelona 4-2

Hasil Liga Champions: PSG Kokoh di Puncak Klasemen Usai Hancurkan Barcelona 4-2

21 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.