Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bank Berebut Dana Nasabah, LPS Tegaskan Belum Masuk Perang Bunga

5 Kamis, 03 Sep 2026, 23:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Bank Berebut Dana Nasabah, LPS Tegaskan Belum Masuk Perang Bunga Bank Berebut Dana Nasabah, LPS Tegaskan Belum Masuk Perang Bunga Doc: ANTARA/ HO-Humas LPS
Ket. Ilustrasi - Petugas LPS.

JAKARTA – Persaingan mendapatkan dana nasabah kembali menjadi perhatian di tengah dinamika likuiditas perbankan.

Kenaikan suku bunga deposito dan meningkatnya porsi simpanan dengan bunga khusus menunjukkan bank harus semakin agresif menjaga sumber pendanaan, meski LPS menilai kondisi saat ini belum dapat disebut sebagai perang suku bunga.

Situasi ini menjadi dilema bagi perbankan. Di satu sisi, bank membutuhkan dana murah dan stabil untuk menopang ekspansi kredit; di sisi lain, menaikkan bunga simpanan dapat memperbesar biaya dana dan menekan margin.

Ketika persaingan semakin ketat, ruang bank untuk menurunkan bunga kredit pun menjadi lebih terbatas, meski pertumbuhan kredit terus menguat.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memandang saat ini tidak terjadi perang suku bunga antarbank karena likuiditas perbankan masih berada dalam kondisi yang ample, meski terdapat tantangan dalam distribusinya.

“Sampai hari ini kami tidak melihat terjadi perang suku bunga. Tidak ada perang suku bunga. Karena memang, seperti kata Bu Destry (Gubernur BI), dari sisi supply itu tidak ada isu sebetulnya,” kata Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu dalam acara Saresehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Kamis (3/9).

Pada Juli 2026, pertumbuhan kredit secara industri mencapai 13,6 persen, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11,21 persen. Dengan kondisi tersebut, ujar Anggiro, LPS menilai belum terdapat crowding out dalam penyaluran kredit.

“Ini pendapat kami sebagai analis ya, karena kami tidak ikut di dalam proses penetapan suku bunga BI-Rate maupun pengawasan terhadap bank. Tapi saya kira, kalau saya boleh menyimpulkan, perbankan kita sehat dengan likuiditas cukup aman,” kata Anggito.

Ia menjelaskan, LPS memiliki mandat untuk menetapkan tingkat bunga penjaminan (TBP) dengan mempertimbangkan perkembangan suku bunga pasar (SBP) serta turut memperhatikan kebijakan BI-Rate.

Namun, Anggito mengamini terdapat distorsi pada suku bunga pasar akibat masih besarnya porsi simpanan yang memperoleh suku bunga khusus (special rate).

Kondisi tersebut menjadi perhatian Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Anggito mengingatkan, pemberian suku bunga khusus kepada deposan atau korporasi besar berpotensi menghambat intermediasi karena bank perlu menyesuaikan suku bunga kredit dengan bunga simpanan tersebut.

Meski demikian, jelas Anggito, LPS tidak memiliki mandat untuk memaksa bank agar mengikuti TBP. Karena itu, LPS berupaya mempersempit kesenjangan antara TBP dan suku bunga pasar secara bertahap.

Dari sisi pemerintah, ia menyebut Menteri Keuangan mulai mengarahkan perusahaan-perusahaan di bawah Kementerian Keuangan atau special mission vehicle (SMV) untuk mengikuti TBP.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat diperluas ke sumber dana pemerintah lainnya. Dengan semakin banyak dana yang mengikuti TBP, suku bunga pasar diharapkan dapat turun secara bertahap dan mendekati TBP.

Sementara untuk korporasi besar, Anggito mengatakan bahwa LPS telah berkomunikasi dengan sejumlah bank yang menawarkan suku bunga khusus. LPS mengimbau bank tidak secara terus-menerus menawarkan suku bunga khusus kepada korporasi besar karena hal tersebut berpotensi menghambat intermediasi.

“Tetapi kami ini sebatas whispering, ya komunikasi saja, tapi tentu tidak mungkin kami melakukan regulasi karena kami tidak punya mandat meregulasi,” kata Anggito.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...

Nusron Wahid Penuhi Panggilan KPK

24 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Nusron Wahid Penuhi Panggil...
Advertisement
Halal Connect Digelar LPPOM, Buka Jalan UMKM Lokal Go Global!

Halal Connect Digelar LPPOM, Buka Jalan UMKM Lokal Go Global!

04 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.