Surplus Perdagangan Indonesia Anjlok, Tekan Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Kamis, 05 Nov 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
Penguatan ekspor, kapasitas produksi, dan diversifikasi pasar diperlukan untuk menjaga surplus perdagangan serta ketahanan ekonomi nasional.
Jakarta - Surplus perdagangan Indonesia anjlok 68,3 persen menjadi 10,61 miliar dollar AS sepanjang Januari-September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penyusutan ini terjadi di tengah lonjakan impor yang jauh melampaui ekspor dan berpotensi mengurangi penopang ekonomi saat momentum pertumbuhan melemah.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan surplus perdagangan barang membantu mengimbangi defisit komponen lain dalam neraca transaksi berjalan, terutama perdagangan jasa dan pendapatan primer. Penyusutan surplus dapat mengurangi kemampuan tersebut dan meningkatkan tekanan terhadap stabilitas ekonomi makro.
"Defisit transaksi berjalan ini juga menjadi salah satu penyebab lemahnya capital inflow masuk ke dalam negeri. Sehingga rupiah ini juga menjadi melemah kalau dorongan untuk capital inflow-nya lemah," kata Faisal, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta, Rabu (4/11).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia pada Januari-September 2026 sebesar 10,61 miliar dollar AS, turun dari 33,48 miliar dollar AS pada periode sama 2025. Impor meningkat 19,67 persen secara tahunan menjadi 210,63 miliar dollar AS, sedangkan ekspor hanya tumbuh 5,58 persen menjadi 221,23 miliar dollar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Faisal mengingatkan kenaikan impor tidak selalu negatif karena bahan baku dan barang modal dapat mendukung produksi. Namun, peningkatan impor migas akibat kenaikan harga minyak dunia dapat menambah beban Indonesia sebagai pengimpor bersih minyak. Penguatan ekspor, kapasitas produksi, dan diversifikasi pasar diperlukan untuk menjaga surplus serta ketahanan eksternal.
Melambat Dua Kuartal
Pada kesempatan itu, ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan III-2026 melambat ke kisaran 5,0-5,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), di bawah konsensus pasar sekitar 5,2 persen.
“Saya memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 berada di kisaran 5,05-5,1 persen, sedikit di bawah konsensus pasar yang berada di sekitar 5,2 persen,” kata Yusuf di Jakarta, Rabu.
Jika proyeksi itu terealisasi, ekonomi Indonesia melambat dua kuartal berturut-turut, setelah tumbuh 5,61 persen pada triwulan I-2026 dan 5,29 persen pada triwulan II-2026.
Menurut Yusuf, kredit investasi yang tinggi menunjukkan dunia usaha masih berekspansi. Aktivitas manufaktur dan ekspor manufaktur juga tetap tumbuh.
“Dengan kata lain, ekonomi masih bergerak karena ada dorongan dari sisi produksi dan investasi,” ujarnya.
Namun, kualitas pertumbuhan dinilai mulai tidak seimbang karena konsumsi rumah tangga, yang menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB), belum menguat. Belanja pemerintah juga diperkirakan melambat.
Impor yang tumbuh jauh lebih cepat daripada ekspor menunjukkan sebagian permintaan domestik mengalir ke produk luar negeri sehingga dampaknya terhadap produksi dalam negeri terbatas. Tekanan harga energi dan pelemahan rupiah turut membebani daya beli.
“Karena itu, meski angka pertumbuhan kemungkinan masih berada di atas 5 persen, saya melihat momentum ekonomi sebenarnya sedang melemah. Pertumbuhan masih ada, tetapi semakin bergantung pada investasi dan proyek-proyek besar, sementara konsumsi rumah tangga belum menjadi motor yang kuat,” katanya.
Penyusutan surplus perdagangan dan perlambatan pertumbuhan memperlihatkan perlunya memperkuat sumber pertumbuhan. Pemerintah harus mendorong konsumsi, meningkatkan daya saing industri domestik, dan memperluas pasar ekspor agar ekonomi tidak terlalu bergantung pada proyek berskala besar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!