Menjaga Tradisi, Menyapa Wisatawan: Pesona Ruwatan Anak Gimbal di Dieng
📅 Minggu, 30 Agu 2026, 21:10 WIB | Oleh: Tim PenulisBANJARNEGARA – Di tengah udara sejuk Dataran Tinggi Dieng, perhatian wisatawan tertuju pada sebuah prosesi yang sarat makna.
Ruwatan Anak Berambut Gimbal kembali menjadi salah satu magnet dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026 di Kompleks Candi Arjuna, Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu (30/8).
Bukan sekadar pertunjukan budaya, ruwatan menjadi ruang bagi tradisi dan keyakinan masyarakat Dieng untuk terus hidup di tengah geliat pariwisata.
Anak-anak berambut gimbal yang menjalani prosesi menjadi pusat perhatian, sementara wisatawan datang menyaksikan dari dekat sebuah ritual yang telah menjadi bagian penting dari identitas budaya Dieng.
Keramaian ini memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat menjadi daya tarik wisata yang kuat. DCF bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang bagi wisatawan untuk mengenal kekayaan budaya masyarakat setempat.
Di balik ribuan pasang mata yang menyaksikan, terselip tantangan untuk memastikan tradisi tetap terjaga autentisitasnya sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat Dieng.
Lebih dari 2.000 wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara memadati Kompleks Candi Arjuna untuk menyaksikan langsung prosesi pemotongan rambut anak-anak berambut gimbal yang menjadi tradisi masyarakat Dieng dan terus dipertahankan sebagai warisan budaya secara turun-temurun hingga kini.
Tradisi tersebut menjadi daya tarik karena wisatawan tidak hanya menikmati pertunjukan budaya, juga dapat menyaksikan secara langsung kearifan lokal masyarakat Dieng yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah seorang wisatawan asal Jakarta, Nur Asyiah mengatakan kehadirannya dalam prosesi tersebut merupakan pengalaman pertama yang memberikan kesan tersendiri.
"Ini pengalaman pertama saya menghadiri acara seperti ini. Suasananya sangat ramai dan mengesankan," kata dia didampingi putrinya, Sabrina.
Dia menilai suasana Dieng sangat berbeda dengan Jakarta yang identik dengan cuaca panas, kemacetan dan polusi udara.
Menurut dia, langit biru, awan yang indah, udara sejuk, serta alam yang masih asri menjadi pengalaman menarik selama mengikuti DCF 2026.
"Kalau di Jakarta kan panas, macet dan banyak polusi. Di sini langitnya biru, awannya bagus, udaranya sangat sejuk dan alamnya masih asri," katanya.
Dia juga menilai Dieng lebih dingin dan alami dibandingkan kawasan lain. Bahkan, menurut dia, suhu udara di Dieng membuat wisatawan tidak memerlukan kipas angin meskipun pada siang hari.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!