Ancaman Krisis Iklim di Balik Ketangguhan Nelayan Perempuan Suku Bajo
Minggu, 30 Agu 2026, 22:37 WIB | Oleh: OpikNelayan perempuan Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, Musna Labaso mempersiapkan peralatan untuk tetap melaut di tengah cuaca buruk, Minggu (30/8). Antara/Faradila Alim.
Nasib serupa menimpa Rusmi Copa (53), sesama nelayan perempuan dan ibu tunggal dari Desa Bajo. Rusmi tak lagi memiliki perahu karena sampannya telah hancur. Kini, ia menggantungkan peruntungan dengan menumpang perahu kakaknya.
"Kalau tidak ikut kakak, saya tidak bisa melaut," ujar Rusmi.
Menumpang perahu orang lain berarti hasil tangkapan ikan bobara atau oci harus dibagi. Beban itu kian menghimpit ketika dihadapkan pada biaya operasional bahan bakar yang mencapai 5 hingga 10 liter sekali jalan. Saat ombak tinggi menerjang, modal solar yang telah dibeli sering kali melayang tanpa membawa hasil. Bahkan, cuaca buruk kerap memaksa mereka absen melaut hingga berbulan-bulan.
"Sudah keluar modal beli bahan bakar, kadang hanya dapat beberapa ekor ikan," keluhnya.
Saat tangkapan melimpah, Rusmi menyetorkannya ke pengepul. Jika hanya sedikit, ia membawanya ke tempat pelelangan. Namun saat tak ada uang yang bisa dibawa pulang, Rusmi mengandalkan ikan lolosi berukuran kecil yang dikeringkan menjadi ikan asin. Olahan sederhana ini menjadi penyambung hidup yang memastikan persediaan pangan keluarga tetap terjaga di darat.
Tergerus daya beli
Bagi Musna dan Rusmi, perubahan yang mereka hadapi tak hanya bersumber dari laut. Di perairan, cuaca ekstrem menentukan apakah mereka bisa bekerja atau tidak. Namun, persoalan tak lantas selesai saat kaki mereka kembali berpijak di daratan.
Musna mencermati bahwa kemarau panjang menggerus daya beli masyarakat darat. Akibatnya, ikan yang mereka bawa pulang tak selalu bisa dijual dengan harga layak.
"Kadang kami susah dapat ikan. Kalaupun dapat, belum tentu harganya bagus," ujar Musna.

Nelayan perempuan Desa BajoIa tidak lagi melaut karena faktor usia yang membuatnya semakin rentan terhadap kondisi laut. Minggu (30/8). Antara/Faradila Alim
Nelayan pun terjepit dari dua arah. Kondisi laut menentukan keterjangkauan hasil tangkapan, sementara ekonomi darat menentukan nilai jualnya.
Bagi perempuan nelayan seperti Musna dan Rusmi, menghilangnya pendapatan tidak serta-merta menghentikan kebutuhan hidup.
Rusmi dan Musna harus memutar otak agar dapur tetap ngebul saat gelombang tinggi melarangnya melaut. Ikan-ikan kecil yang tak laku dijual ia keringkan menjadi ikan asin demi menjaga ketahanan pangan keluarga.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!