Infantino Didesak Mundur, Presiden European Leagues: Tak Ada Masa Depan di FIFA
📅 Kamis, 27 Agu 2026, 00:05 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraPARIS- Presiden European Leagues, Claudius Schaefer, menilai Gianni Infantino tidak lagi memiliki masa depan sebagai Presiden FIFA. Ia mendesak reformasi terhadap badan sepak bola dunia tersebut, terutama menyangkut kewenangan dan tanggung jawab orang nomor satu di FIFA.
Dalam wawancara dengan The Athletic yang dipublikasikan Rabu (26/8), Schaefer menyatakan European Leagues, organisasi yang mewakili 53 liga sepak bola profesional putra dan putri, sangat prihatin dengan kepemimpinan Infantino.
“Kami mempertanyakan kelayakannya untuk melanjutkan sebagai presiden. Di Swiss, kami memiliki pandangan yang cukup dekat mengenai FIFA dan tampaknya pengaruh presiden terus meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Schaefer.
Ia juga mengkritik proses pengambilan keputusan di FIFA yang dinilai semakin tidak melibatkan pemangku kepentingan.
“Keputusan-keputusan besar diambil tanpa konsultasi yang berarti dengan para pemangku kepentingan yang akan terkena dampaknya.”
Kritik tersebut muncul di tengah konflik sengit antara sejumlah badan sepak bola dunia setelah FIFA membatalkan proposal untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Rencana tersebut memicu penolakan keras, terutama dari Eropa.
Infantino kini menghadapi tekanan dari tiga konfederasi, yakni UEFA di Eropa, AFC di Asia, serta CONCACAF yang menaungi kawasan Amerika Utara, Tengah, dan Karibia. Ketiga konfederasi juga disebut tengah membahas kemungkinan menggelar mosi tidak percaya terhadap presiden FIFA tersebut.
UEFA sendiri tetap mendorong perubahan kepemimpinan FIFA meski ancaman boikot terhadap sejumlah kompetisi FIFA baru-baru ini dibatalkan setelah FIFA memberikan jaminan tidak akan kembali menjalankan proposal penjualan hak komersial turnamen.
Schaefer juga mempertanyakan sejumlah keputusan kontroversial yang menurutnya berpotensi mengganggu integritas sepak bola.
Salah satunya adalah pemberian penghargaan perdamaian perdana FIFA kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Desember lalu. Ia juga menyoroti pembatalan kartu merah terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, di Piala Dunia 2026 setelah adanya intervensi Trump.
“FIFA adalah sebuah asosiasi berdasarkan hukum Swiss dan di dalam asosiasi ini terdapat aturan. Presiden dan anggota dewan harus menjalankan tugas mereka dengan penuh kehati-hatian. Ini merupakan persoalan hukum,” kata Schaefer.
Menurut dia, keputusan pemberian penghargaan tersebut tanpa terlebih dahulu memberi tahu Dewan FIFA dapat dianggap sebagai pelanggaran aturan.
“Kemudian, selama Piala Dunia, kita semua mengetahui persoalan kartu merah itu. Itu benar-benar sebuah skandal. Saya tidak pernah mengingat adanya intervensi politik seperti ini dalam urusan olahraga. Tindakan semacam itu mempertanyakan integritas permainan.”
Schaefer kemudian melontarkan pernyataan paling keras terhadap Infantino.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!