Kunjungi Sido Muncul, Delegasi Taiwan Jajaki Kerja Sama Tanaman Obat dan Herbal
📅 Senin, 17 Agu 2026, 18:42 WIB | Oleh: Henri pelupessyDengan demikian, kerja sama yang dibidik tidak hanya berupa pembelian bahan baku, tetapi juga mencakup pengembangan sumber pasokan dalam jangka panjang.
Diisi Pemerintah, Akademisi, dan Industri
Komposisi delegasi menunjukkan bahwa penjajakan kerja sama dilakukan secara lintas sektor. Di antara tokoh yang hadir adalah Su Yi-Chang, MD, Ph.D., Direktur National Research Institute of Chinese Medicine (NRICM), yang memiliki keahlian dalam penelitian klinis dan integrasi Chinese-Western Medicine.
Ada pula Hsieh Tsai-Pei, Section Chief Department of Chinese Medicine and Pharmacy, Ministry of Health and Welfare Taiwan. Kehadirannya relevan dengan aspek kebijakan, regulasi, keamanan, dan pengelolaan mutu bahan TCM.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari kalangan akademisi, Prof. Chang Yuan-Shiun dari China Medical University memiliki keahlian di bidang tanaman obat, farmakognosi, fitokimia, pengendalian mutu obat Tiongkok, serta Taiwan Herbal Pharmacopeia.
Sementara sektor industri diwakili antara lain oleh Lin Tsan-Ming, President Jin Jih Bao An; Chien Mei-Yin, Vice President KODA Pharmaceutical; dan Hsieh Jui-Yu, Counsellor SunTen Pharmaceutical.
Keterlibatan pelaku industri tersebut membuka pembahasan mengenai berbagai aspek, seperti pengadaan dan traceability bahan baku, standardisasi, manufaktur, Good Manufacturing Practice (GMP), quality control, teknologi ekstraksi, hingga pengembangan produk herbal untuk pasar internasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Irwan melihat potensi hubungan Indonesia-Taiwan di sektor herbal jauh lebih besar daripada sekadar perdagangan tanaman obat.
Menurutnya, kerja sama dapat dikembangkan melalui penelitian bersama, budidaya, standardisasi bahan baku, pendidikan dan pelatihan, penguatan regulasi, hingga pengembangan produk herbal.
“Kalau ada peluang untuk meningkatkan perdagangan tanaman obat dengan Taiwan, tentu kami menyambut baik. Tetapi yang lebih penting adalah membangun kerja sama jangka panjang. Kita bisa bekerja sama dalam penelitian, budidaya, standardisasi, pendidikan, maupun pengembangan produk herbal,” ujarnya.
Ia menilai kebutuhan Taiwan untuk mencari sumber bahan baku baru dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat rantai pasok tanaman obat sekaligus meningkatkan standar industri dalam negeri.
“Yang penting adalah bagaimana bahan baku tersebut dibudidayakan dengan baik, diproses secara benar, memiliki standar mutu, dan dibuktikan secara ilmiah,” lanjutnya.
Perhatian Taiwan terhadap tanaman obat Indonesia dinilai menjadi sinyal positif bagi industri herbal nasional. Indonesia tidak hanya memiliki keragaman hayati, tetapi juga pengalaman panjang dalam pemanfaatan tanaman obat dan pengembangan jamu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!