Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Nama Indonesia Makin Mendunia, Karya Anak Bangsa Bersinar di Ajang UNESCO

📅 Jumat, 14 Agu 2026, 07:22 WIB | Oleh:
Nama Indonesia Makin Mendunia, Karya Anak Bangsa Bersinar di Ajang UNESCO Doc: Antara foto/Xinhua
Ket. Arsip - Hewan wildebeest berhamburan menuju Sungai Mara di Cagar Alam Masai Mara, Kenya, Rabu (30/7) waktu setempat.

JAKARTA - Dua talenta muda Indonesia, Salsabilla Nur Feranti dan Veldesen Yaputra, terpilih mewakili negara dalam program global "Capture the Future: Global Youth Storytelling Initiative for People and Nature" yang diselenggarakan oleh UNESCO melalui Man and the Biosphere (MAB) Programme.

Pendaftaran program global ini telah dibuka sejak 5 Maret hingga 31 Mei 2026. Selanjutnya, dewan juri pakar MAB Programme melakukan penetapan representatif pemuda berprestasi dari seluruh dunia di Kantor Pusat UNESCO pada 29 Juli 2026.

Duta Besar RI untuk UNESCO Mohamad Oemar menyambut positif capaian tersebut sebagai bukti besarnya kontribusi generasi muda Indonesia dalam agenda global.

"Indonesia memiliki salah satu kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya terbesar di dunia. Keberhasilan Salsabilla dan Veldesen menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia mampu menerjemahkannya melalui kreativitas, ilmu pengetahuan, dan storytelling sehingga dapat berbicara kepada masyarakat dunia," ujar Mohamad Oemar dalam keterangannya KBRI Paris, Kamis (13/8).

Salsabilla Nur Feranti, peneliti di Yayasan Lokahita berlatar belakang Rekayasa Kehutanan dan Biomanajemen ITB, mengusung seri foto "Shared Ground" yang diambil di Cagar Biosfer Serengeti–Ngorongoro, Tanzania.

Karya tersebut mengisahkan kehidupan masyarakat Maasai yang hidup berdampingan dengan alam dan satwa liar.

"Saya ingin mengajak orang-orang untuk melihat keberlanjutan sebagai pengetahuan hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi," kata Salsabilla.

Sementara itu, Veldesen Yaputra, mahasiswa magister arsitektur di Tsinghua University asal Pontianak, membawa karya berjudul "From an Old House to New Hope: Youth and Villagers Reviving Mawei Embroidery". Karyanya mendokumentasikan revitalisasi rumah kayu tradisional masyarakat Shui di Libo, Guizhou, China.

Saat ini, Veldesen juga tengah menerapkan pendekatan arsitektur hijau berbasis pengetahuan lokal di Desa Tenganan, Bali, bekerja sama dengan Universitas Udayana.

"Bagi saya, konservasi bukan hanya menjaga masa lalu, tetapi menggunakan pengetahuan yang kita miliki untuk membantu warisan tersebut terus berkembang bagi generasi berikutnya," tutur Veldesen.

Sebagai tindak lanjut, kedua wakil Indonesia ini akan mengikuti UNESCO x vivo Co-Creation Camp di Cagar Biosfer Apennine Tuscan-Emilian, Italia, pada 31 Agustus hingga 6 September 2026.

Di sana, mereka akan bergabung dengan para peserta dari berbagai negara untuk memperkuat keterampilan bercerita dan membangun jaringan internasional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Megapolitan
Uni Eropa Siapkan Aturan 'B...
Olahraga
Peraih Medali Emas Asian Ga...
Advertisement
Kapok! Nekat Muncak Saat Ditutup, 8 Pendaki Ilegal Semeru Kena Blacklist Nasional Se-Indonesia

Kapok! Nekat Muncak Saat Ditutup, 8 Pendaki Ilegal Semeru Kena Blacklist Nasional Se-Indonesia

09 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.