Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tak Sekadar Kuliner, Wisata Gastronomi Indonesia Juga Hadirkan Sejarah dan Budaya Nusantara

27 Minggu, 04 Okt 2026, 09:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tak Sekadar Kuliner, Wisata Gastronomi Indonesia Juga Hadirkan Sejarah dan Budaya Nusantara Tak Sekadar Kuliner, Wisata Gastronomi Indonesia Juga Hadirkan Sejarah dan Budaya Nusantara Doc: Kementerian Pariwisata
Ket. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana beserta jajaran saat mengikuti kelas memasak di Pemulan Bali Farm Cooking, Gianyar, Bali.

JAKARTA - Sejarah dan budaya yang melatarbelakangi sebuah hidangan menjadi bagian penting dalam pengembangan wisata gastronomi Indonesia selain cita rasa dan bahan pangan yang digunakan.

Dalam keterangan resmi Kementerian Pariwisata yang dikonfirmasi di Jakarta, Minggu, Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara mengatakan wisata gastronomi tidak sekadar menyajikan makanan, tetapi juga menghadirkan cerita, pengalaman budaya, serta keberlanjutan sumber pangan lokal.

"Semua produk wisata gastronomi di Jogja harus memiliki latar belakang cerita. Contohnya, mengapa kuliner Jogja cenderung manis? Karena pada masa Sultan Hamengkubuwono VII, terdapat sekitar 19 pabrik gula di Jogja. Gula menjadi simbol status sosial dan kekayaan bagi keraton, sehingga minuman dan makanan saat itu disajikan sangat manis. Jadi, orang tahu rekam sejarahnya; ini yang harus dikemas dengan baik," kata GKR Bendara.

GKR Bendara menyampaikan bahwa gastronomi bukan sekadar persoalan rasa, melainkan juga pemahaman terhadap filosofi dan identitas yang melatarbelakangi sebuah hidangan. Rekam sejarah yang terdokumentasi dengan baik menjadi salah satu kekuatan gastronomi Yogyakarta.

Contohnya seperti dua kuliner langka nasi golong gilig dan dawet sambal. Dawet sambal memadukan dawet manis, sambal pecel, dan tahu.

"Karena terkadang orang baru mendengar dawet sambal sudah menolak dulu, karena pikirannya dawet manis kok ada sambalnya. Jadi dawet manis tapi ada sambal pecelnya, jadi ada tahunya tapi ada dawetnya," ujarnya.

Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menambahkan gastronomi perlu dikemas melalui narasi yang kuat dan berpijak pada nilai budaya.

Dia mencontohkan rendang yang tidak hanya memiliki cita rasa khas, tetapi juga menyimpan makna filosofis.

"Gastronomi harus terus dicatat, diwariskan, dan diintegrasikan dengan penataan kota pusaka serta cerita sejarah agar memberikan nilai tambah yang optimal bagi wisatawan," ujar Ramlan.

Chef Fernando Sindu melanjutkan bahwa konsumen lokal memiliki standar tinggi terhadap makanan daerah karena terdapat ikatan emosional dengan hidangan yang dikenal sejak kecil.

"Orang Indonesia sangat kritis terhadap makanan lokal karena memiliki kenangan atau ikatan emosional dengan masakan keluarga seperti nenek atau ibu. Jadi penting banget untuk memahami resep dari sumber aslinya di berbagai daerah agar dapat menyajikan makanan yang autentik sekaligus memberikan sedikit sentuhan atau modifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada konsumen," katanya.

Sementara itu, ilustrator sekaligus pengisah makanan Nugraha Pratama mengatakan tantangan dalam menggambarkan makanan bukan hanya memvisualisasikan rasa, melainkan menangkap budaya di balik hidangan yang memiliki latar belakang sejarah panjang.

"Bagian tersulit bukan menggambarkan rasa, melainkan menangkap budaya di balik makanan tersebut karena memiliki latar belakang sejarah yang panjang dan mendalam," ucap dia.

Melalui goresan sketsa, ia terus berupaya membangun dokumentasi sejarah visual gastronomi yang merekam cara manusia menikmati kuliner sekaligus berinteraksi secara sosial pada zamannya.

Kesemua pandangan itu mengemuka dalam Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks 2026 digelar di DI Yogyakarta pada Jumat (2/10) dengan menghadirkan 22 pembicara dari unsur pemerintah, industri, pegiat seni, hingga akademisi untuk mengulas pengembangan gastronomi sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi berkelanjutan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
Advertisement
Air Mata di Balik Jersey Merah Putih! Film Dokumen Perjuangan Timnas Indonesia "The Longest Wait" Siap Guncang Bioskop!

Air Mata di Balik Jersey Merah Putih! Film Dokumen Perjuangan Timnas Indonesia "The Longest Wait" Siap Guncang Bioskop!

27 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.