Ironi Tongkok! Rekor Bangun Energi Surya dan Angin, tapi 360 TWh Listrik Bersih Terbuang Sia-sia
📅 Sabtu, 08 Agu 2026, 00:25 WIB | Oleh: AndesSingapura – Tongkok terus mencetak rekor pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dan angin sebagai bagian dari transisi menuju energi bersih. Namun, laporan terbaru mengungkap bahwa sebagian besar listrik yang dihasilkan justru tidak dimanfaatkan akibat keterbatasan jaringan listrik dan kebijakan yang masih mendukung penggunaan batu bara.
Dilansir dari The Straits TImes, laporan yang dirilis pada 6 Agustus oleh lembaga riset independen Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) dan Global Energy Monitor (GEM) memperkirakan sekitar 360 terawatt-jam (TWh) listrik dari tenaga surya dan angin tidak terserap sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Jumlah tersebut cukup untuk memasok kebutuhan listrik Meksiko atau Inggris selama satu tahun penuh, berdasarkan data konsumsi listrik 2025.
Listrik bersih yang terbuang itu terjadi akibat fenomena curtailment, yakni ketika produksi listrik dari energi terbarukan sengaja dikurangi atau dihentikan karena keterbatasan kapasitas jaringan transmisi.
Volume curtailment pada semester pertama 2026 meningkat 49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, jumlah listrik bersih yang terbuang itu lebih besar daripada pertumbuhan kebutuhan listrik Tiongkok selama periode yang sama.
Sebaiknya Anda baca juga:
Temuan tersebut menjadi sorotan mengingat Tiongkok merupakan penghasil emisi karbon dioksida (CO2) terbesar di dunia dan tengah mengandalkan pembangunan besar-besaran energi terbarukan untuk mencapai target puncak emisi karbon sebelum 2030.
Batu Bara Masih Menghambat
Peneliti CREA dan GEM menilai sistem kelistrikan Tiongkok masih menghadapi fenomena "coal lock-in", yakni ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga batu bara yang menghambat pemanfaatan energi bersih.
"Secara sederhana, Tiongkok membangun pembangkit surya dan angin lebih cepat daripada kemampuan sistem kelistrikannya untuk memanfaatkan energi tersebut," kata analis kebijakan CREA, Qi Qin, yang menjadi penulis utama laporan tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Qin, tantangan terbesar transisi energi Tiongkok saat ini bukan lagi pembangunan pembangkit, melainkan kemampuan jaringan listrik menyerap energi terbarukan.
Meski demikian, ia melihat pemerintah Tiongkok mulai mengambil langkah untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Infrastruktur Jaringan Belum Mengimbangi
Salah satu penyebab utama adalah faktor geografis. Sebagian besar pembangkit surya dan angin berada di wilayah barat laut Tiongkok, seperti Qinghai, Xinjiang, dan Gansu, sedangkan pusat konsumsi listrik berada di kawasan pesisir timur yang padat industri dan penduduk.
Hingga kini, jaringan transmisi berkapasitas tinggi yang menghubungkan kedua wilayah tersebut masih belum memadai, meskipun pemerintah terus menggelontorkan investasi besar untuk memperkuat sistem kelistrikan nasional.
Selain itu, CREA dan GEM menyoroti kontrak jangka panjang yang mewajibkan operator jaringan membeli listrik dalam jumlah minimum dari pembangkit batu bara lokal.
Kebijakan tersebut membuat operator tetap menggunakan batu bara meskipun pasokan listrik dari energi terbarukan sedang melimpah dan lebih murah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!