PM Tailan Sebut Asean Kini di Persimpangan Jalan Hadapi Gejolak Geopolitik Dunia
📅 Kamis, 06 Agu 2026, 03:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiJakarta – Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menilai Asean tengah berada di persimpangan penting yang akan menentukan apakah organisasi kawasan itu mampu mempertahankan perannya sebagai kekuatan regional yang kredibel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian global.
Pernyataan tersebut disampaikan Anutin saat berpidato dalam kunjungan perdananya ke Sekretariat Asean di Jakarta, Selasa (4/8), sebagai bagian dari kunjungan resmi dua hari ke Indonesia pada 3–4 Agustus 2026.
"Saya percaya Asean kini berada di sebuah persimpangan jalan. Pilihan-pilihan yang kita ambil hari ini akan menentukan apakah Asean mampu terus membentuk masa depannya sendiri serta tetap menjadi kekuatan yang dipercaya dan konstruktif, baik di tingkat kawasan maupun global," katanya.
Dikutip dari Antara, menurut Anutin, tantangan yang dihadapi Asean saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan ketika organisasi itu didirikan pada 1967. Jika pada masa awal kawasan diwarnai konflik dan ketidakpercayaan, kini tekanan datang dari rivalitas geopolitik, gangguan rantai pasok, konflik bersenjata, hingga perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat.
Ia menilai persaingan antarnegara kini tidak hanya memengaruhi hubungan politik, tetapi juga perdagangan, investasi, perkembangan teknologi, serta stabilitas rantai pasok global. Di saat yang sama, konflik di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah, berpotensi mengganggu pasokan energi dan meningkatkan biaya ekonomi di Asia Tenggara.
Anutin juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurut dia, teknologi tersebut dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dimanfaatkan jaringan kejahatan lintas negara untuk memperluas aktivitas mereka.
"Semua ini merupakan tantangan regional yang membutuhkan jawaban regional," ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan Asean harus memperkuat fondasi internal agar mampu menghadapi tekanan eksternal tanpa kehilangan kebebasan menentukan arah strategisnya.
Menurut Anutin, penguatan tersebut harus diwujudkan melalui integrasi kawasan yang lebih dalam, kelembagaan yang lebih kuat, serta kemitraan yang semakin luas.
"Hal itu berarti memperdalam integrasi, memperkuat institusi, dan memperluas kemitraan," katanya.
Bayang-Bayang Krisis
Pernyataan Anutin muncul setelah Pertemuan Menteri Luar Negeri Asean (ASEAN Ministerial Meeting/AMM) ke-59 di Manila berlangsung di tengah berbagai tantangan regional dan global.
Konflik Amerika Serikat (AS)-Iran, sengketa Laut Tiongkok Selatan, hingga krisis Myanmar menjadi isu utama yang menguji kemampuan Asean menjaga stabilitas kawasan.
Situasi tersebut tercermin dalam tema keketuaan ASEAN 2026 yang diusung Filipina, "Navigating Our Future, Together", yang menekankan pentingnya persatuan kawasan dalam menghadapi dinamika global.
Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro mengatakan Asia Tenggara harus menghadapi dunia yang semakin tidak pasti melalui langkah yang terkoordinasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!