Cangkok Jaringan Testis Sukses Hasilkan Sperma pada Pria Infertil
📅 Selasa, 04 Agu 2026, 06:07 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Vrije Universiteit Brussel
Sebuah terobosan dalam kedokteran reproduksi dilaporkan setelah tim dokter di Belgia berhasil mentransplantasikan kembali jaringan testis yang sebelumnya telah dibekukan dan disimpan selama bertahun-tahun. Setelah ditanamkan kembali ke tubuh pasien, jaringan tersebut menunjukkan kemampuan menghasilkan sel sperma.
Keberhasilan ini menjadi perkembangan penting dalam upaya mempertahankan dan memulihkan kesuburan pria, terutama bagi pasien yang sejak masa kanak-kanak harus menjalani pengobatan yang berisiko merusak fungsi reproduksi. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa teknologi tersebut masih berada pada tahap awal dan belum dapat dianggap sebagai terapi kesuburan yang siap digunakan secara luas.
Laporan mengenai prosedur ini dipublikasikan dalam bentuk preprint, yaitu naskah ilmiah yang belum melalui proses penelaahan sejawat atau peer review. Karena itu, temuan tersebut masih membutuhkan verifikasi melalui penelitian lanjutan, penelitian independen, serta studi dengan jumlah pasien yang lebih besar.
Meski demikian, kemampuan jaringan testis yang telah disimpan selama bertahun-tahun untuk kembali ditanamkan dan menunjukkan tanda-tanda spermatogenesis atau pembentukan sperma dinilai sebagai pencapaian penting dalam kedokteran reproduksi.
Sejak Masa Kanak-kanak
Sebaiknya Anda baca juga:
Prosedur ini berawal dari program preservasi kesuburan yang dikembangkan tim medis Belgia sejak awal 2000-an. Para dokter mulai mengambil dan menyimpan jaringan testis dari anak laki-laki yang harus menjalani terapi dengan risiko tinggi menyebabkan kerusakan permanen pada sistem reproduksi.
Jaringan tersebut diambil sebelum pasien mendapatkan pengobatan yang berpotensi merusak kemampuan testis dalam memproduksi sperma. Setelah diambil, jaringan dipotong menjadi fragmen-fragmen kecil dan dibekukan melalui metode kriopreservasi.
Tujuan prosedur tersebut adalah menyimpan jaringan yang mengandung sel-sel penting bagi pembentukan sperma hingga pasien mencapai usia dewasa dan memiliki keinginan untuk memiliki anak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pendekatan ini penting karena anak laki-laki yang belum memasuki masa pubertas belum menghasilkan sperma matang yang dapat dikumpulkan dan dibekukan menggunakan metode preservasi sperma konvensional.
Pada pria dewasa, upaya mempertahankan kesuburan umumnya dilakukan dengan mengambil dan membekukan sperma sebelum pasien menjalani kemoterapi, radioterapi, atau pengobatan lain yang berisiko menyebabkan infertilitas. Namun, metode tersebut tidak dapat dilakukan pada anak laki-laki yang belum mengalami pubertas karena mereka belum memproduksi sperma matang.
Karena itu, penyimpanan jaringan testis menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk mempertahankan kemungkinan reproduksi di masa depan.
Herman Tournaye, salah satu penulis penelitian sekaligus dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Vrije Universiteit Brussel, menjelaskan bahwa jaringan yang digunakan dalam prosedur tersebut harus berasal dari pasien sendiri.
“Jaringan testis dari orang lain berpotensi dianggap sebagai benda asing oleh sistem kekebalan tubuh penerima. Hal ini dapat memicu penolakan jaringan dan membuat transplantasi menjadi jauh lebih kompleks. Sebaliknya, apabila jaringan diambil dari tubuh pasien ketika masih anak-anak dan ditanamkan kembali kepada orang yang sama setelah dewasa, risiko penolakan imunologis dapat dihindari,” ujarnya.
Konsep tersebut pada dasarnya sederhana: jaringan reproduksi pasien disimpan ketika masih berfungsi, kemudian dikembalikan ke tubuh pasien ketika ia telah dewasa dan siap memiliki anak. Namun, penerapan konsep tersebut dalam praktik medis membutuhkan penelitian dan pengembangan selama bertahun-tahun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!