Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Utang Meningkat, Rakyat Jepang Mulai Cemas Kondisi Fiskal

28 Minggu, 23 Agu 2026, 22:57 WIB | Oleh:
Utang Meningkat, Rakyat Jepang Mulai Cemas Kondisi Fiskal Utang Meningkat, Rakyat Jepang Mulai Cemas Kondisi Fiskal Doc: AFP/JIJI PRESS

TOKYO - Jajak pendapat Kyodo News yang dirilis pada Minggu (23/8), menunjukkan 71 persen responden khawatir terhadap kesehatan fiskal Jepang setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi memutuskan untuk sementara menurunkan pajak konsumsi atas bahan makanan guna meredam inflasi.

Jajak pendapat yang dilakukan pada akhir pekan ini juga mendapati tingkat persetujuan terhadap Kabinet Takaichi turun 3,5 poin persentase dari survei sebelumnya pada Juli menjadi 50,2 persen. Angka itu merupakan tingkat terendah sejak ia menjabat tahun lalu. Tingkat ketidaksetujuan naik 0,2 poin menjadi 33,9 persen.

Survei terbaru yang dilaksanakan via telepon pada Sabtu dan Minggu itu memberikan bukti baru bahwa dukungan publik terhadap kabinet PM Takaichi sedang mengalami tren penurunan, meskipun tingkat dukungan masih relatif tinggi.

PM Takaichi telah melaksanakan kebijakan kunci, seperti mengurangi tarif pajak konsumsi untuk makanan dan minuman menjadi 1 persen dari sebelumnya 8 persen guna membantu rumah tangga yang terdampak kenaikan harga barang sehari-hari, akibat nilai yen melemah dan ketegangan di Timur Tengah.

Namun, sebanyak 71,7 persen responden menyatakan bahwa mereka khawatir atau memiliki "beberapa kekhawatiran" mengenai memburuknya kesehatan fiskal negara jika pemerintah melaksanakan pengurangan pajak sementara sesuai rencana.

Dorongan Takaichi untuk pengeluaran fiskal agresif guna mendukung sektor strategis utama dan mendorong perekonomian telah menyebabkan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang dan nilai tukar yen melemah. Kesehatan fiskal Jepang saat ini adalah yang terburuk di antara negara maju.

Dengan dugaan Takaichi mempertimbangkan perombakan kabinet dan kepemimpinan partai penguasa, 73,8 persen menolak pengangkatan anggota parlemen yang terkait dalam skandal penggelapan dana ke posisi kunci.

Selain itu, ketika responden ditanya bagaimana pandangan mereka terhadap penghilangan kata "penyesalan" dalam pidato Takaichi pada upacara peringatan kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II pada 15 Agustus, 47,8 persen mendukung tindakan tersebut sementara 42,6 persen menolak.

Takaichi, seorang konservatif yang dikenal dengan pandangan garis keras mengenai pertahanan dan keamanan, 'membedakan diri' dari pendahulunya Shigeru Ishiba, yang pada tahun lalu menjadi pemimpin Jepang pertama dalam 13 tahun yang menggunakan kata "penyesalan" atas perang dalam pidatonya tanggal 15 Agustus.

Ia menghindari kunjungan ke kuil Yasukuni yang kontroversial di Tokyo pada hari peringatan tersebut. Tiongkok dan Korea Selatan, yang menderita akibat agresi Jepang saat perang, memandang kuil tersebut sebagai simbol masa lalu tersebut. Kuil Shinto tersebut menghormati penjahat perang yang sudah dihukum bersama para korban perang.

Namun demikian, ia membungkuk dua kali, bertepuk tangan dua kali, dan kemudian membungkuk sekali ke arah Yasukuni dari luar lokasi dekat tempat upacara peringatan, yang tampak sebagai tindakan pemujaan Shinto.

Mayoritas responden, 44,0 persen, mendukung bahasa tubuhnya itu, sementara 26,7 persen mengatakan ia seharusnya mengunjungi kuil tersebut secara langsung. Sekitar 22,1 persen mengatakan ia seharusnya tidak melakukan pemujaan, bahkan dari jarak jauh sekalipun.

Dukungan Kuat

Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Takaichi menikmati dukungan kuat, sebagaimana dibuktikan oleh kemenangan besar dalam pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat pada Februari lalu.

Namun, penanganan urusan parlemen oleh LDP dan mitra koalisinya, Partai Inovasi Jepang (JIP), mendapat kritik dari partai oposisi, meskipun kehadiran mereka di parlemen mengalami pengurangan signifikan setelah pemilihan.

LDP memperoleh dukungan tertinggi sebesar 34,9 persen, turun dari 35,9 persen pada Juli, sementara dukungan JIP sedikit meningkat menjadi 5,9 persen dari 5,8 persen.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
Jerman Siapkan Pasukan Khus...
Luar Negeri
Uni Eropa Dekati Kanada unt...
Luar Negeri
Sedang Viral! Diaspora Indo...

Dishub Tangsel Tindak Parkir Liar yang Kian Menjamur

48 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Dishub Tangsel Tindak Parki...
Nasional
BMKG: Cuaca Panas Indonesia...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
RI Bidik E50, 320 Pabrik Etanol Baru Dibutuhkan untuk Pangkas Impor Energi  Triliunan Rupiah

RI Bidik E50, 320 Pabrik Etanol Baru Dibutuhkan untuk Pangkas Impor Energi Triliunan Rupiah

28 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.