Cangkok Jaringan Testis Sukses Hasilkan Sperma pada Pria Infertil
📅 Selasa, 04 Agu 2026, 06:07 WIB | Oleh: Haryo BronoDikembangkan Selama
Lebih dari Dua Dekade
Tim peneliti Belgia tidak langsung menguji teknik tersebut pada manusia. Setelah program penyimpanan jaringan testis dimulai, para ilmuwan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memahami bagaimana jaringan dapat bertahan hidup setelah melalui proses pembekuan, pencairan, dan transplantasi.
Eksperimen pada hewan menjadi bagian penting dalam pengembangan metode tersebut. Peneliti harus mengetahui bagaimana jaringan testis dapat mempertahankan struktur dan fungsi sel setelah dibekukan dan kemudian dicairkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mereka juga harus menentukan lokasi yang tepat untuk menanamkan kembali jaringan agar mendapatkan suplai darah yang cukup dan tetap hidup. Tantangan lainnya adalah memastikan sel-sel yang bertanggung jawab terhadap produksi sperma dapat kembali berfungsi setelah transplantasi.
Produksi sperma sendiri merupakan proses biologis yang kompleks. Spermatogenesis berlangsung di dalam tubulus seminiferus pada testis dan melibatkan berbagai jenis sel serta lingkungan biologis yang sangat spesifik. Kerusakan pada struktur testis atau gangguan terhadap lingkungan mikro yang mendukung perkembangan sel sperma dapat menghambat proses tersebut.
Karena itu, keberhasilan transplantasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan jaringan untuk tetap hidup setelah ditanamkan. Jaringan tersebut juga harus mampu mengembalikan fungsi biologisnya, termasuk menjalankan proses pembentukan sperma.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pasien Ingin Memiliki Anak
Pasien yang menjadi subjek penelitian telah menjalani pengambilan jaringan testis pada 2008. Saat itu, ia menghadapi kondisi medis yang berpotensi menyebabkan gangguan kesuburan. Jaringan testis kemudian disimpan selama bertahun-tahun.
Setelah dewasa dan siap memiliki anak bersama pasangannya, pasien kembali menghubungi tim medis yang sebelumnya menyimpan jaringan tersebut. Momen ini menjadi kesempatan bagi para dokter untuk menguji teknologi yang telah mereka kembangkan selama bertahun-tahun.
Operasi transplantasi dilakukan pada Desember 2024. Sebanyak 11 fragmen jaringan testis yang sebelumnya dibekukan dicairkan dan kemudian ditanamkan pada delapan lokasi berbeda di area skrotum pasien.
Setelah transplantasi, dokter membiarkan jaringan tersebut beradaptasi dan berkembang di dalam tubuh pasien. Sekitar satu tahun kemudian, tim medis mengambil kembali jaringan hasil cangkokan untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya aktivitas spermatogenesis.
Dengan demikian, jaringan yang sebelumnya diambil dari tubuh pasien, dibekukan selama bertahun-tahun, kemudian dicairkan dan ditanamkan kembali ternyata mampu menjalankan kembali salah satu fungsi penting testis, yakni menghasilkan sel sperma. Temuan ini menjadi bagian paling penting dari penelitian tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!