Kemiri NTB Dibidik Jadi Komoditas Ekspor Bernilai Tambah
📅 Minggu, 27 Sep 2026, 14:25 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: LPEI
JAKARTA — Pengembangan komoditas kemiri di Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah dan memperluas akses ke pasar ekspor. Delapan Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan bersinergi membangun ekosistem kemiri dari hulu hingga hilir melalui program pemberdayaan petani dan pengembangan produk turunan.
Program bertajuk “Pemberdayaan Komoditas Desa Devisa Kemiri Nusa Tenggara Barat yang Berkelanjutan dan Berorientasi Ekspor” tersebut diluncurkan di Mataram, Kamis (24/9). Program ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Sinergi SMV Kementerian Keuangan Tahun 2026.
Program tersebut menjangkau 40 desa dan 350 petani binaan dengan luas lahan sekitar 7.836 hektare. Produksi kemiri dari wilayah binaan saat ini diperkirakan sekitar 120 ton per tahun.
Intervensi dilakukan pada sejumlah tahapan, mulai dari penyediaan bibit dan peningkatan kapasitas petani hingga pembangunan sentra produksi, modernisasi proses pascapanen, pemanfaatan energi surya, serta pengembangan produk turunan seperti minyak kemiri dan briket.
Program sinergi SMV ini merupakan bagian dari upaya Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) mengoptimalkan peran SMV sebagai bagian dari kekayaan negara. Sejak 2022, DJKN mendorong seluruh SMV untuk bersinergi melalui program TJSL dengan memanfaatkan mandat dan kompetensi masing-masing.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pengembangan potensi ekonomi daerah dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut dia, pemerintah berperan sebagai enabler yang membantu daerah mengembangkan potensi ekonominya.
“Saya senang melihat semangat sinergi yang sangat kuat di NTB. Semangat ini sejalan dengan visi pembangunan NTB, yaitu ‘Bangkit Bersama Menuju NTB Provinsi Kepulauan yang Makmur dan Mendunia’,” ujar Suahasil dalam sambutan yang dibacakan Staf Ahli Menteri Keuangan Dwi Teguh Wibowo dalam keterangannya pada hari Jumat (25/9).
Menurut Suahasil, SMV dapat berperan dalam membangun kapasitas, membentuk ekosistem, dan membuka akses bagi pengembangan komoditas daerah. Setelah model usaha terbentuk, pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha diharapkan dapat melanjutkan serta memperluas kegiatan tersebut.
Delapan SMV Berbagi Peran
Delapan SMV terlibat dalam pengembangan kemiri NTB dengan peran yang disesuaikan dengan mandat dan kompetensi masing-masing.
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank mendukung pengolahan pascapanen dan penyediaan peralatan penunjang produk kemiri. PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII) berperan dalam penguatan kapasitas petani di Lombok, Sumbawa, dan Bima, sedangkan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) mendukung penyediaan dan penanaman bibit kemiri.
PT Sarana Multigriya Finansial (PT SMF) mendukung pembangunan sentra produksi. Sementara itu, PT Geo Dipa Energi (PT GDE) berkontribusi melalui pemasangan panel surya, dan PT Karabha Digdaya mendukung pengelolaan pascapanen.
Indonesia Infrastructure Finance (IIF) dan PT Sejahtera Eka Graha mengambil peran dalam pengembangan produk turunan, termasuk briket dan minyak kemiri.
Pembagian peran tersebut diarahkan untuk membentuk rantai nilai yang lebih terintegrasi. Dengan demikian, pengembangan kemiri tidak berhenti pada peningkatan produksi di tingkat petani, tetapi berlanjut ke pengolahan, diversifikasi produk, hingga pemasaran.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!