Pemerintah Diminta Percepat Diplomasi agar Tarif AS Beri Kepastian bagi Industri RI
📅 Selasa, 28 Jul 2026, 06:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Jakarta – Ketidakpastian kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) dinilai menjadi tantangan yang lebih besar bagi sektor manufaktur Indonesia dibandingkan besaran tarif itu sendiri. Selama kebijakan tersebut belum memiliki kepastian, pelaku usaha diperkirakan akan menahan ekspansi investasi dan mengambil sikap wait and see.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan dunia usaha saat ini menghadapi ketidakpastian dalam menghitung struktur biaya ekspor ke pasar AS karena besaran tarif final masih dapat berubah.
"Selama proses penetapan tarif belum memberikan kepastian, pelaku usaha akan kesulitan menghitung struktur biaya ekspor ke pasar AS. Kondisi tersebut membuat perusahaan cenderung mengambil sikap wait and see sebelum melakukan ekspansi bisnis," kata Yusuf di Jakarta, Senin (27/7).
Menurut dia, dampak terbesar justru akan dirasakan pada sisi investasi.
"Dampak yang lebih besar justru terjadi pada investasi. Perusahaan menahan ekspansi kapasitas, pembelian mesin, hingga perekrutan tenaga kerja karena khawatir struktur biaya berubah ketika tarif final ditetapkan," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Yusuf menambahkan, investor asing yang menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk memasok pasar AS juga diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi karena perubahan tarif dapat memengaruhi kelayakan bisnis.
Dalam jangka pendek, ketidakpastian tersebut berpotensi memicu penundaan pesanan dan penyesuaian volume ekspor. Importir di AS diperkirakan akan menunggu kepastian tarif sebelum menandatangani kontrak baru dengan eksportir Indonesia.
Ia menilai sektor manufaktur padat karya menjadi kelompok yang paling rentan terdampak, terutama industri tekstil, pakaian jadi, alas kaki, dan furnitur yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasar Amerika Serikat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Yusuf, ketika pesanan tertunda, margin perusahaan akan tertekan, kapasitas produksi berpotensi dikurangi, dan penyerapan tenaga kerja ikut melambat. Dampak tersebut juga dapat merembet ke rantai pasok domestik yang banyak melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sementara itu, beberapa subsektor seperti elektronik dan barang konsumsi dinilai memiliki risiko yang relatif lebih rendah karena pasar ekspornya lebih terdiversifikasi.
Perkuat Diplomasi
Menghadapi kondisi tersebut, Yusuf mendorong pemerintah memperkuat diplomasi perdagangan dengan Amerika Serikat, khususnya melalui Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR), guna memperoleh kepastian kebijakan tarif.
"Selama proses penetapan tarif masih berlangsung, pemerintah perlu terus memperkuat diplomasi dengan USTR dan pemerintah AS untuk memperoleh kepastian serta memperluas daftar produk yang dikecualikan dari tarif tambahan," katanya.
Selain jalur diplomasi, pemerintah juga dinilai perlu menjaga daya saing industri nasional melalui penyederhanaan regulasi impor bahan baku, dukungan pembiayaan, serta pemberian insentif sementara bagi sektor-sektor yang paling terdampak.
Yusuf juga mendorong percepatan diversifikasi pasar ekspor ke kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara agar ketergantungan terhadap pasar AS dapat dikurangi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!