Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah Diminta Percepat Diplomasi agar Tarif AS Beri Kepastian bagi Industri RI

6 Selasa, 28 Jul 2026, 06:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pemerintah Diminta Percepat Diplomasi agar Tarif AS Beri Kepastian bagi Industri RI Pemerintah Diminta Percepat Diplomasi agar Tarif AS Beri Kepastian bagi Industri RI Doc: Antara
Ket. Pengunjung melihat-lihat furnitur, yang dipajang pada ajang Central Java Furniture and Carving Expo (CJFACE) 2026 di DP Mal, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (13/6).

Jakarta – Ketidakpastian kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) dinilai menjadi tantangan yang lebih besar bagi sektor manufaktur Indonesia dibandingkan besaran tarif itu sendiri. Selama kebijakan tersebut belum memiliki kepastian, pelaku usaha diperkirakan akan menahan ekspansi investasi dan mengambil sikap wait and see.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan dunia usaha saat ini menghadapi ketidakpastian dalam menghitung struktur biaya ekspor ke pasar AS karena besaran tarif final masih dapat berubah.

"Selama proses penetapan tarif belum memberikan kepastian, pelaku usaha akan kesulitan menghitung struktur biaya ekspor ke pasar AS. Kondisi tersebut membuat perusahaan cenderung mengambil sikap wait and see sebelum melakukan ekspansi bisnis," kata Yusuf di Jakarta, Senin (27/7).

Menurut dia, dampak terbesar justru akan dirasakan pada sisi investasi.

"Dampak yang lebih besar justru terjadi pada investasi. Perusahaan menahan ekspansi kapasitas, pembelian mesin, hingga perekrutan tenaga kerja karena khawatir struktur biaya berubah ketika tarif final ditetapkan," ujarnya.

Yusuf menambahkan, investor asing yang menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk memasok pasar AS juga diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi karena perubahan tarif dapat memengaruhi kelayakan bisnis.

Dalam jangka pendek, ketidakpastian tersebut berpotensi memicu penundaan pesanan dan penyesuaian volume ekspor. Importir di AS diperkirakan akan menunggu kepastian tarif sebelum menandatangani kontrak baru dengan eksportir Indonesia.

Ia menilai sektor manufaktur padat karya menjadi kelompok yang paling rentan terdampak, terutama industri tekstil, pakaian jadi, alas kaki, dan furnitur yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasar Amerika Serikat.

Menurut Yusuf, ketika pesanan tertunda, margin perusahaan akan tertekan, kapasitas produksi berpotensi dikurangi, dan penyerapan tenaga kerja ikut melambat. Dampak tersebut juga dapat merembet ke rantai pasok domestik yang banyak melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sementara itu, beberapa subsektor seperti elektronik dan barang konsumsi dinilai memiliki risiko yang relatif lebih rendah karena pasar ekspornya lebih terdiversifikasi.

Perkuat Diplomasi

Menghadapi kondisi tersebut, Yusuf mendorong pemerintah memperkuat diplomasi perdagangan dengan Amerika Serikat, khususnya melalui Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR), guna memperoleh kepastian kebijakan tarif.

"Selama proses penetapan tarif masih berlangsung, pemerintah perlu terus memperkuat diplomasi dengan USTR dan pemerintah AS untuk memperoleh kepastian serta memperluas daftar produk yang dikecualikan dari tarif tambahan," katanya.

Selain jalur diplomasi, pemerintah juga dinilai perlu menjaga daya saing industri nasional melalui penyederhanaan regulasi impor bahan baku, dukungan pembiayaan, serta pemberian insentif sementara bagi sektor-sektor yang paling terdampak.

Yusuf juga mendorong percepatan diversifikasi pasar ekspor ke kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara agar ketergantungan terhadap pasar AS dapat dikurangi.

"Penguatan kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan internasional juga penting karena menjadi salah satu isu utama dalam proses investigasi," ujarnya.

Meski dunia usaha memperkirakan tarif final dapat mencapai sekitar 18 persen, Yusuf menilai daya saing Indonesia belum tentu hilang. Menurutnya, daya saing ekspor tidak hanya ditentukan oleh besaran tarif, tetapi juga efisiensi produksi, kualitas produk, keandalan rantai pasok, kepatuhan terhadap standar internasional, serta hubungan jangka panjang dengan pembeli.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Ekonomi
Rupiah Hari Ini Melemah Dip...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Daerah 2027 Resmi Dibuka Kemenhaj, Cek Syarat dan Jadwalnya Disini!

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Daerah 2027 Resmi Dibuka Kemenhaj, Cek Syarat dan Jadwalnya Disini!

05 Nov 2026
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.