Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ilmuwan Temukan Dua Bintang Raksasa Meledak Berurutan, Ungkap Misteri Jellyfish Nebula

📅 Rabu, 22 Jul 2026, 06:30 WIB | Oleh:
Ilmuwan Temukan Dua Bintang Raksasa Meledak Berurutan, Ungkap Misteri Jellyfish Nebula Doc: Antara
Ket. Ilustrasi: Nebula Tarantula secara resmi dikenal sebagai 30 Doradus, wilayah antariksa dicirikan oleh filamen berdebu yang menyerupai kaki laba-laba berbulu, dan telah lama menjadi perhatian para astronom yang tertarik dengan pembentukan bintang.

WASHINGTON – Berbeda dengan Matahari yang merupakan bintang tunggal, sebagian besar bintang bermassa besar di alam semesta lahir berpasangan dalam sistem bintang ganda (binary system). Kedua bintang tersebut menghabiskan hidupnya terikat oleh gravitasi layaknya "pasangan kosmik". Namun, seperti halnya hubungan lainnya, ikatan itu tidak berlangsung selamanya.

Untuk pertama kalinya, para ilmuwan menemukan bukti adanya dua bintang masif dalam satu sistem bintang ganda yang sama-sama kehabisan bahan bakar dan meledak sebagai supernova dalam rentang waktu yang relatif singkat. Masing-masing ledakan meninggalkan awan gas bercahaya yang dikenal sebagai nebula.

Salah satu nebula tersebut merupakan objek yang sudah lama dikenal di Galaksi Bima Sakti, yakni Jellyfish Nebula atau Nebula Ubur-ubur, yang dinamai karena bentuknya menyerupai ubur-ubur.

Dilansir dari Channel NewsAsia, berdasarkan lebih dari 16 tahun pengamatan menggunakan Teleskop Antariksa Sinar Gamma Fermi milik NASA, tim peneliti menemukan bukti adanya nebula kedua yang berada tidak jauh dari Jellyfish Nebula. Penemuan itu membantu menjelaskan bahwa Jellyfish Nebula sebenarnya merupakan bagian dari dua ledakan bintang dalam satu sistem yang sama.

Para peneliti meyakini Jellyfish Nebula, yang memiliki nama resmi IC 443, terbentuk ketika sebuah bintang dengan massa sekitar 15 hingga 25 kali lebih besar dari Matahari meledak di akhir siklus hidupnya.

Sementara itu, nebula kedua yang diberi nama G189.6+3.3 diperkirakan berasal dari ledakan bintang pendampingnya dalam sistem biner, yang massanya sedikitnya 20 kali lebih besar dibandingkan Matahari.

Selama hidupnya, kedua bintang tersebut diperkirakan memancarkan cahaya puluhan ribu kali lebih terang daripada Matahari. Setelah meledak, keduanya kemungkinan berubah menjadi bintang neutron, yaitu sisa inti bintang yang sangat padat.

Kedua nebula itu berada sekitar 6.000 tahun cahaya dari Bumi di rasi bintang Gemini. Satu tahun cahaya merupakan jarak yang ditempuh cahaya dalam satu tahun, sekitar 9,5 triliun kilometer.

Evolusi Bintang

Penemuan ini dinilai memberikan kesempatan langka bagi ilmuwan untuk memahami evolusi sistem bintang ganda bermassa besar.

"Sistem ini memberikan kesempatan yang sangat langka untuk merekonstruksi seluruh sejarah evolusi bintang ganda bermassa besar, mulai dari kelahiran dan interaksi kedua bintang, dua ledakan supernova, hingga sisa-sisa yang ditinggalkannya," kata penulis utama penelitian, Miltiadis Michailidis, peneliti pascadoktoral di Departemen Fisika Universitas Stanford.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada Selasa dalam jurnal Nature Communications.

Menurut Michailidis, meskipun sebagian besar bintang masif lahir dalam sistem bintang ganda, belum pernah sebelumnya ditemukan pasangan bintang yang keduanya telah meledak sebagai supernova dan masih menyisakan jejak yang dapat diamati.

Bahkan, sebagian bintang bermassa besar diketahui lahir dalam sistem yang terdiri atas tiga bintang atau lebih.

Nebula yang ditinggalkan kedua supernova merupakan struktur gas panas yang terus mengembang, berisi partikel berenergi tinggi dan material antarbintang yang terdorong akibat dahsyatnya ledakan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2
NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Sulteng Diterpa Lindu 5,4

NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Sulteng Diterpa Lindu 5,4

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.