FPCI: Indonesia Youth Democracy Forum Pacu Generasi Muda Miliki Rasa Kepemilikan terhadap Demokrasi
📅 Rabu, 22 Jul 2026, 18:45 WIB | Oleh: Ilham SudrajatJAKARTA - Ketua FPCI, Dino Patti Djalal, mengatakan Indonesia Youth Democracy Forum diselenggarakan agar generasi muda memiliki rasa kepemilikan terhadap demokrasi. Menurutnya, rasa kepemilikan tersebut berarti mengapresiasi, menghormati, dan menanamkan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat.
"Mengapa kita menyelenggarakan acara ini? Karena kita ingin generasi muda memiliki rasa kepemilikan terhadap demokrasi," ujar Dino di Jakarta, Rabu (22/7).
Lebih lanjut, Dino mengaku bersyukur Indonesia memiliki demokrasi setelah mengunjungi berbagai negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Menurut dia, di banyak negara terdapat masyarakat yang tidak dapat menyampaikan pendapat secara bebas karena ruang sipil mereka terbatas.
"Oleh karena itu, tujuan dari proyek ini adalah membuat generasi sekarang memiliki rasa kepemilikan terhadap demokrasi. Kepemilikan yang berarti mereka mengapresiasinya, menghormatinya, dan ingin agar nilai-nilai tersebut tertanam di dalam DNA kita," kata Dino.
Ia menjelaskan demokrasi tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan pemilu, tetapi juga menghormati kelompok minoritas dan menghargai perbedaan pendapat. Karena itu, Indonesia Youth Democracy Forum digelar sebagai ruang untuk melatih nilai-nilai tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam kesempatan itu, Dino mengapresiasi peserta dari berbagai partai politik yang mampu berdiskusi secara terbuka selama forum berlangsung. Ia mengajak generasi muda untuk saling menghormati meski memiliki pandangan yang berbeda serta tidak saling menjatuhkan dalam berkompetisi.
"Inilah yang ingin saya lihat dari generasi muda dalam merangkul demokrasi. Anda boleh memiliki ide berbeda, bebas berbicara, bebas bersaing, tetapi Anda tetap saling merangkul, tidak saling menjatuhkan," ucap Dino.
Direktur Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) Indonesia, Jan Senkyr, mengatakan tema Next Generation Civic Leadership and Democratic Resilience relevan bagi demokrasi kini. Menurut Jan, berbagai negara menghadapi polarisasi politik, disinformasi, penurunan kepercayaan masyarakat terhadap politik serta perubahan ruang digital pesat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih lanjut, Jan mengatakan Indonesia patut bangga atas pencapaian demokrasinya yang tetap stabil di tengah masyarakat plural beragam. Namun, ia menegaskan demokrasi bukanlah proyek selesai sehingga perlu diperkuat melalui partisipasi politik, dialog konstruktif serta kepemimpinan akuntabel.
"Indonesia telah terbukti menjadi negara demokrasi yang stabil dan tangguh di tengah masyarakat yang plural dan beragam. Namun, demokrasi bukanlah sebuah proyek yang sudah selesai," ujar Jan.
Jan juga menekankan bahwa keberlangsungan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan lembaga demokrasi. Menurut dia, pengalaman Jerman setelah Perang Dunia II menunjukkan demokrasi memerlukan masyarakat yang memahami menerima nilai-nilai demokrasi secara aktif.
Ia mengatakan KAS hampir setengah abad mempromosikan demokrasi, partisipasi politik, dan supremasi hukum di berbagai negara termasuk Indonesia. Melalui kerja sama dengan Kemendagri, FPCI, akademisi, serta organisasi masyarakat sipil, KAS memperkuat demokrasi di Indonesia berkelanjutan. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!