Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dari Aroma ke Rupa, Nawarupa Mengubah Kopi Menjadi Lukisan Monokrom

📅 Selasa, 21 Jul 2026, 19:53 WIB | Oleh:
Dari Aroma ke Rupa, Nawarupa Mengubah Kopi Menjadi Lukisan Monokrom Doc: Maria D. Andriana
Ket. Pameran lukisan kopi bagian dari program Nawarupa oleh Komunitas Perupa Perempuan Indonesia (KOMPPI) yang berlangsung di Lobby Ra Suites Simatupang, Jakarta, pada 15--25 Juli 2026.

Aroma kopi yang samar tercium dari deretan lukisan bernuansa cokelat menyambut pengunjung di lobi Hotel Ra Suites Simatupang, Jakarta, pada 15–26 Juli 2026. Namun, aroma tersebut bukan berasal dari secangkir kopi yang baru diseduh, melainkan dari karya seni yang menjadikan kopi sebagai medium utama.

Di atas kanvas, kopi yang selama ini identik dengan minuman pagi atau teman bersantai di kedai berubah menjadi medium artistik. Warna cokelat yang dihasilkan menghadirkan karakter monokrom dengan nuansa sepia, klasik, dan nostalgik.

“Pameran tersebut memperkenalkan seni lukis kopi yang dikembangkan oleh komunitas Nawarupa. Melalui karya-karyanya, para perupa menunjukkan bagaimana bahan yang akrab dalam kehidupan sehari-hari dapat diolah menjadi karya seni visual,” tulis jurnalis senior dan penulis Indonesia Maria D. Andriana.

Ia memaparkan, seni melukis menggunakan kopi telah berkembang di berbagai negara. Salah satu kisah yang kerap dikaitkan dengan perkembangan teknik tersebut adalah ketidaksengajaan ketika kopi tumpah di atas kanvas. Peristiwa itu kemudian disebut menginspirasi seniman Italia, Giulia Bernadelli, untuk menjadikan kopi sebagai medium berkarya.

Bernadelli dikenal menggunakan berbagai benda sederhana, seperti jemari, sendok, dan tusuk gigi, untuk mengolah noda kopi menjadi karya seni. Dengan teknik tersebut, ia membuat reinterpretasi terhadap sejumlah mahakarya dunia, antara lain Mona Lisa, The Creation of Adam, The Starry Night, dan The Birth of Venus.

Seniman lain yang dikenal melalui seni lukis kopi adalah Maria A. Aristidou dari Inggris. Ia menggunakan kopi layaknya cat air dengan mencampurkan berbagai jenis kopi untuk mendapatkan gradasi warna cokelat, mulai dari warna yang sangat terang hingga pekat. Objek yang diangkat Aristidou juga beragam, termasuk karakter dan tokoh dari budaya populer seperti Star Wars dan Game of Thrones.

Di Indonesia, seni lukis kopi juga berkembang melalui sejumlah perupa. Arya Setra dikenal sebagai salah satu pelopor komunitas seni kopi, sementara Rudi Winarso banyak menghasilkan karya lukisan potret dengan menggunakan kopi sebagai medium.

Mengolah kopi menjadi lukisan memiliki tantangan tersendiri. Perupa tidak hanya harus menentukan tingkat kepekatan kopi, tetapi juga membangun warna secara perlahan melalui lapisan-lapisan yang membutuhkan waktu untuk mengering.

"Satu lapis harus menunggu benar-benar kering sebelum dilapisi lagi," ujar Titiek Ndary, salah seorang perupa Nawarupa kepada Maria.

Ia memaparkan, perkembangan budaya minum kopi dan semakin banyaknya kedai kopi di berbagai kota turut menjadi salah satu faktor yang mendorong seni lukis kopi semakin dikenal. Dalam praktiknya, para seniman menggunakan medium yang berbeda. Sebagian memanfaatkan ampas kopi untuk menghasilkan tekstur tertentu, sementara lainnya menggunakan air seduhan kopi untuk mendapatkan efek transparan yang menyerupai cat air.

Nawarupa menjadi salah satu komunitas yang aktif memperkenalkan teknik tersebut kepada masyarakat. Selain berpartisipasi dalam berbagai pameran seni di Jakarta, komunitas ini juga menggelar lokakarya interaktif untuk menunjukkan bahwa seni lukis kopi dapat dipraktikkan menggunakan bahan sederhana.

Dalam lokakarya tersebut, peserta dapat mencoba membuat karya dengan memanfaatkan kopi saset, air hangat, serta kertas atau kanvas. Pendekatan ini sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal seni rupa melalui medium yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Menurut Titiek, tantangan dalam membuat lukisan kopi tidak hanya terletak pada teknik pewarnaan. Pemilihan objek juga menjadi bagian penting karena tidak semua objek mudah diterjemahkan ke dalam karya monokrom.

"Tantangan lainnya adalah menentukan obyek lukisan karena tidak semua obyek mudah diterjemahkan dalam lukisan monokrom," kata Titiek.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Persaingan di LTS Bayangi P...
Rona
Mediterania: Laut yang Memb...
Menpar: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Gastronomi Dunia

Menpar: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Gastronomi Dunia

21 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.