Mentari Pagi di Ambon: Momen Anak SD Menggenggam Tangan Ayah Sebelum Masuk Sekolah.
📅 Jumat, 17 Jul 2026, 13:22 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: Antara Foto
Mentari pagi baru saja menghangatkan langit Kota Ambon ketika seorang anak sekolah dasar menggenggam tangan ayahnya di depan gerbang sekolah.
Dengan tas yang tampak lebih besar dari tubuhnya, Khayla Zhakira melangkah sambil bercerita tentang pelajaran, teman-teman, dan cita-citanya. Sang ayah mendengarkan, mengusap kepalanya, lalu memeluknya sebelum berpesan, “Belajar yang rajin, ya. Ayah tunggu ceritanya nanti sore.”
Bagi sebagian orang, momen itu mungkin tampak biasa. Namun, bagi seorang anak, perhatian sederhana tersebut dapat menjadi fondasi rasa aman, kepercayaan diri, dan keyakinan bahwa selalu ada sosok yang mendampinginya dalam setiap tahap pertumbuhan.

Sebaiknya Anda baca juga:
Kehadiran ayah pun tidak berhenti di gerbang sekolah. Di rumah, ia menemani belajar dan bermain, berdialog, mengajarkan disiplin, sekaligus menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Dari ruang keluarga yang sederhana itulah karakter generasi masa depan dibentuk.
Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Provinsi Maluku, Dr. Edi Setiawan, mengatakan keterlibatan ayah merupakan salah satu investasi penting dalam membangun sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
“Anak membutuhkan kehadiran ayah, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Kehadiran itu akan memengaruhi perkembangan psikologis, kemampuan sosial, hingga prestasi akademiknya,” kata Edi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan keterlibatan ayah secara positif cenderung lebih mampu mengelola emosi, memiliki kepercayaan diri, serta membangun hubungan sosial yang sehat.
Pela Gandong
Di Maluku, penguatan peran ayah sesungguhnya memiliki modal sosial yang kuat melalui falsafah Pela Gandong, warisan budaya yang mengajarkan persaudaraan, saling menjaga, gotong royong, dan tanggung jawab bersama.
Selama ini Pela Gandong dikenal sebagai perekat hubungan antarnegeri, bahkan lintas agama. Namun, nilai-nilai di dalamnya juga relevan diterapkan dalam pengasuhan anak.
Falsafah ini mengajarkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan menguatkan sesama. Dalam keluarga, nilai tersebut menegaskan bahwa pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama ayah dan ibu, bukan semata-mata tugas ibu.
Semangat ale rasa beta rasa (merasakan apa yang dirasakan sesama) juga mendorong terciptanya keluarga yang hangat. Dalam konteks pengasuhan, ayah hadir sebagai pendengar, pembimbing, sekaligus teladan bagi anak-anaknya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!