Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Jangan Pindahkan Penduduk Pulau Rempang untuk Solar Park

📅 Kamis, 09 Jul 2026, 01:55 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Jangan Pindahkan Penduduk Pulau Rempang untuk Solar Park Doc: Ilustrasi agrivoltaics/Antara
Ket. Konsep Agrivoltaik adalah metode pemanfaatan lahan secara ganda (dual-use) yang menggabungkan kegiatan pertanian (tanaman/ ternak) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atas satu hamparan lahan yang sama.

» Bukan masalah ekspor listrik, tapi secara kemanusiaan dan nilai ekonominya seimbang atau tidak, sebab tanpa disadari itu merugikan Indonesia.

JAKARTA - Rencana Indonesia mengekspor energi listrik bersih ke Singapura jangan sampai mengorbankan rakyat dengan menggusur mereka yang sudah bertahun-tahun mendiami tanah yang akan dijadikan sebagai solar park atau taman surya, sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar. 

Singapura saat ini hanya bisa mendapat pasokan listrik bersih (PLTS) dari Johor Malaysia dan Rempang (Indonesia).Namun, Johor tidak mau karena tidak sesuai dengan hitung-hitungan ekonominya.

Sedangkan, taman surya di Pulau Rempang Batam, tanah yang digunakan tidak sesuai dengan manfaat ekonominya, sehingga sama dengan mereka menyewa tanah untuk mendapatkan listrik murah.

Pengamat Hukum dan Pembangunan, Hardjuno Wiwoho mengingatkan pemerintah agar tidak menjadikan relokasi masyarakat Pulau Rempang sebagai konsekuensi yang harus diterima demi mewujudkan kerja sama ekspor listrik bersih ke Singapura. Menurutnya, Indonesia justru akan memiliki daya tawar lebih kuat apabila mampu menunjukkan bahwa pembangunan energi hijau berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hak masyarakat.

“Singapura selalu membodohi kita, saking kelewatannya menimbulkan gejolak soial di Rempang. Singapura datang dengan naskah perjanjian seolah-olah membantu padahal justru kitalah yang membantu pertumbuhan ekonomi mereka,” kata Hardjuno.

Singapura jelasnya justru disebut-sebut sebagai investor terbesar di Indonesia padahal mereka hanya membeli bond atau surat utang. “Itu bukan investor tapi kreditur dan anehnya duitnya berasal dari duit orang-orang Indonesia yang ditempatkan di sana,” kata Hardjuno.

Apalagi, tanah yang mereka target di dekat Singapura, sehingga harus menggusur penduduk yang sudah beberapa generasi mendiami pulau tersebut, bukan tanah kosong seperti di Gurun Gobi.

Belum lagi, manfaat ekonominya tidak seimbang karena mereka membeli dengan harga murah, paling tinggi 6-7 sen dollar AS per Kilowaatt Hour (KWH, bahkan sampai 20 sen pun belum seimbang, butuh 18 tahun untuk balik modal.

“Jadi jangan menggunakan tanah yang mempunyai nilai ekonomi tinggi untuk kehidupan rakyat setempat. Kalau dipasang solar panel dan manusianya harus dipindah berarti menghilangkan permukiman rakyat setempat. Padahal, dalam Pasal 33 UUD 1945 jelas tertulis bumi, air dan kekayaan alam harus untuk kepentingan rakyat, bukan bisnis. Jadi, kalau mereka dipindahkan meskipun diberi kompensasi, tetap saja menayalahi UUD dan Pancasila terutama sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” katanya.

Di Pulau Rempang itu lebih cocok dibagun pertanian dan peternakan, sehingga rakyat mengolah tanah dengan bantuan Pemerintah untuk swasembada pangan dan juga menghemat devisa impor pangan serta membangun petani sejahtera yang berkelanjutan hingga tujuh generasi ke depan.

Jika rakyat tidak dibantu untuk pertanian rakyat, maka substitusi impor sulit diwujudkan, karena perlu modal dan bantuan teknologi. “Untuk apa membangun lumbung pangan jauh di Merau kalau di Sumatera banyak tanah yang belum terbangun untuk peningkatan produksi pangan nasional dimana populasi sudah ada. Di Merauke, harus memindahkan penduduk sebagi transmigran, penduduk setempat yang harus dibangun. Jangan malah masyarakat di Rempang diminta mengosongkan tanahnya untuk membangun panel surya. Itu kan bertentangan dengan kodrat manusia,” katanya.

Tidak Ganggu Fungsi Ekonomi

Di Eropa, pembangunan panel surya tidak mengganggu fungsi ekonomi tanah untuk berkebun atau bertani.Eropa membangun PLTS secara dual land use, bertingkat, yang bawah kebun atau pertanian yang atas solar panel. Biasa juga disebut Agrivoltaic farm. Sedangkan, di Timur tengah solar farm ditempatkan di padang pasir yang tidak bisa ditinggali manusia. Sedangkan, Tiongkok membangunnya di Gurun Gobi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ayo Simak Pesan Khusus dari Bupati Sleman Ini

1 jam lalu | Marcellus Widiarto

Daerah
Ayo Simak Pesan Khusus dari...
Luar Negeri
Ini yang Dilakukan Uni Erop...
Nasional
Gawat! Krisis Air Semakin B...
  • Ekonom Optimistis Sektor Infrastruktur Telko Tetap Bersinar dalam Lima Tahun Mendatang
    Preview komentar:
    Ini Dia Cara menutup,menonaktifkan kartu kredit BNI? Untuk ...
    Untuk menutup kartu kredit Bank BNI Hubungi BNICall ...
  • Tantangan Sekolah Swasta: Persaingan Semakin Berat
    Preview komentar:
    Lanjudkan tetap setia hadir untuk melayani
  • Begini Kronologi Lengkap Bentrokan Warga di Jalan Tambak Jakarta Pusat yang Menewaskan Satu Orang
    Preview komentar:
    2 kelompok warga, itu warga mana dg warga ...

Event Akhir Pekan di Jakarta 1-2 Agustus: Dari Brightspot hingga JSD Blok M Fest

Event Akhir Pekan di Jakarta 1-2 Agustus: Dari Brightspot hingga JSD Blok M Fest

31 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.