Rupiah Rentan Melemah, 7 Juli 2026
📅 Selasa, 07 Jul 2026, 09:15 WIB | Oleh: Muchamad IsmailJAKARTA – Rupiah berpotensi kembali melanjutkan pelemahannya seiring dinamika perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Eskalasi konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat mendorong in vestor beralih ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi melihat investor terus memantau perkembangan geopolitik di Eropa Timur, dan perkembangan negosiasi damai AS-Iran di Timur Tengah.
Selain itu, fokus investor pekan ini juga tertuju pada rilis ri salah rapat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terha dap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Selasa (7/7), bergerak fluktuatif namun rentan melemah di kisaran 17.990 - 18.050 rupiah per dollar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Senin (6/7) sore, melemah 32 poin atau 0,18 persen dari akhir pekan lalu menjadi 17.995 rupiah per dollar AS.
Ibrahim mengatakan pelemahan ini dipengaruhi res pons negatif pasar atas laporan terbaru Fitch Ratings terkait kondisi ekonomi Indonesia.
“Fitch Ratings dalam laporan terbarunya memberi pandangan mendalam mengenai rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia, yang terlihat dari indikator pelemahan rupiah, penurunan cadangan de visa, hingga arus modal keluar yang masif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun demi kian, perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat membu ruknya tata kelola ekonomi,” ucapnya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.
Lembaga pemeringkat itu memperingatkan bahwa te kanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah, sekaligus memperbesar risiko terhadap penurunan peringkat utang (sovereign rating) In donesia, yang pada Maret 2026 masih dipertahankan pada level BBB dan prospek (outlook) direvisi menjadi negatif.
Selain Fitch Ratings, lanjut dia, pasar juga gelisah pasca neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit 1,61 miliar dollar AS pada Mei 2026, yang mengakhiri tren surplus selama 72 bulan beruntun.
Melihat sentimen global, tensi geopolitik memanas ka rena adanya peperangan antara Rusia dengan Ukraina menjelang pertemuan puncak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Turki.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!