Melawan Dogma Biologi, Perempuan Ternyata Bisa Menghasilkan Sel Telur Baru
📅 Selasa, 07 Jul 2026, 07:23 WIB | Oleh: Haryo BronoSELAMA lebih dari 70 tahun, para ilmuwan mengajarkan bahwa mamalia betina lahir dengan jumlah sel telur yang terbatas, dan cadangan tersebut akan terus berkurang seiring bertambahnya usia hingga akhirnya habis saat menopause.
Namun, dalam dua dekade terakhir, para ilmuwan berhasil mengidentifikasi sel-sel pada ovarium dewasa tikus, sapi, babi, primata, hingga manusia yang mampu menghasilkan oosit baru dalam kondisi tertentu. Meski belum dipastikan apakah sel tersebut bisa menghasilkan sel telur yang layak dibuahi, temuan ini membuka kemungkinan kontroversial: penuaan ovarium ternyata jauh lebih dinamis dan mungkin bisa dibalik.
“Sebelum penelitian ini, semua jawaban mengenai infertilitas maupun menopause selalu didasarkan pada anggapan bahwa perempuan hanya memiliki jumlah sel telur yang tetap sejak lahir. Tetapi bagaimana jika anggapan itu ternyata tidak benar?” kata Jonathan Tilly, ahli biologi dari Northeastern University, seperti dilaporkan oleh Scientific American.
Awal Mula Gugatan terhadap Dogma Lama
Gagasan bahwa ovarium mampu menghasilkan sel telur baru sebenarnya sudah muncul sejak dekade 1920-an. Namun, teori tersebut tenggelam setelah penelitian ilmuwan Inggris, Solly Zuckerman, pada pertengahan abad ke-20 menyimpulkan bahwa ovarium tidak memiliki kemampuan menghasilkan sel telur setelah kelahiran.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kesimpulan Zuckerman hampir tidak pernah dipertanyakan hingga tahun 2004, ketika Jonathan Tilly dan timnya menerbitkan makalah di jurnal Nature. Tilly menyatakan bahwa konsep “cadangan sel telur tetap” secara matematis tidak masuk akal karena adanya atresia folikel—proses alami ketika banyak oosit mati sebelum matang. Menurutnya, tingkat kematian oosit yang diamati di lapangan terlalu tinggi jika dibandingkan dengan sisa oosit pada usia lanjut. Harus ada proses pembentukan sel telur baru yang terus berlangsung selama hidup.
Penemuan Sel Punca Oogonial (OSC)
Tilly kemudian mengusulkan keberadaan sel punca khusus yang disebut oogonial stem cells (OSCs) atau sel punca oogonial. Sel ini diduga terus menghasilkan oosit baru, mirip dengan sel spermatogonia pada testis laki-laki yang memproduksi sperma sepanjang hidup.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tahun 2009, peneliti dari Shanghai Jiao Tong University berhasil mengisolasi OSC dari ovarium tikus dewasa. Tahun 2012: Tilly dan timnya melaporkan bahwa sel serupa juga ditemukan pada ovarium manusia dewasa.
Pada tahun 2017, melalui teknik genetika, tim Tilly membuat oosit baru pada tikus memancarkan cahaya hijau fluoresen di bawah mikroskop. Hasilnya, sel baru ini terbukti mampu berkembang menjadi sel telur dan menghasilkan keturunan tikus yang sehat.
Tahun 2023, Tim Tilly menemukan bahwa OSC masih ada pada tikus tua dan jaringan manusia setelah menopause, namun mereka kehilangan kemampuan karena gen-gen pentingnya menjadi tidak aktif.
Perdebatan Ilmiah
Meski datanya menarik, tidak semua ilmuwan menerima keberadaan OSC. Profesor Aaron Hsueh dari Stanford University School of Medicine, misalnya, mengkritik metode Tilly yang menggunakan antibodi khusus untuk mengidentifikasi OSC dan menilai pendekatannya belum cukup meyakinkan. Sebaliknya, Tilly membela bahwa antibodinya tersedia secara komersial dan telah didukung oleh hampir 100 publikasi ilmiah yang melalui proses peer-review di seluruh dunia.
Evelyn Telfer, Ketua Biologi Reproduksi di University of Edinburgh, mengakui bahwa konsensus ilmiah yang mapan memang sulit diubah karena faktor pendanaan riset. Namun, setelah bekerja sama langsung menggunakan jaringan ovarium manusia, Telfer kini yakin sel itu ada.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!