Ekspor Melemah, Pemerintah Diminta Percepat Hilirisasi dan Diversifikasi Pasar Global
📅 Minggu, 05 Jul 2026, 06:00 WIB | Oleh: Tim PenulisMenteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai meningkatnya impor migas akibat kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor utama penyebab defisit tersebut.
"Dugaan saya karena kita impor migas, harganya lagi naik kan? Minyak bumi, saya pikir di situ yang membuatnya (impor) naik," kata Purbaya.
Senada dengan itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai pemerintah perlu mengedepankan strategi jangka panjang untuk menjaga daya saing ekspor nasional, tidak hanya berfokus pada kebijakan jangka pendek.
Menurut Yusuf, prioritas utama adalah mempercepat diversifikasi pasar ekspor ke kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin, sekaligus mempercepat penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) serta mengoptimalkan pemanfaatan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Sebaiknya Anda baca juga:
"Prioritas pertama adalah mempercepat diversifikasi pasar ekspor, terutama ke Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin, sambil mempercepat penyelesaian perjanjian dagang seperti IEU-CEPA dan memaksimalkan pemanfaatan RCEP," ujarnya.
Selain memperluas akses pasar internasional, Yusuf juga mendorong pemerintah memperluas program hilirisasi ke komoditas lain seperti bauksit, tembaga, dan produk pertanian bernilai tambah. Menurutnya, pengalaman industri nikel menunjukkan bahwa hilirisasi mampu meningkatkan ketahanan ekspor Indonesia di tengah gejolak ekonomi global.
Ia juga menilai efisiensi logistik dan pelabuhan perlu terus ditingkatkan agar biaya ekspor semakin kompetitif, khususnya bagi industri manufaktur padat karya yang menghadapi persaingan ketat dengan negara-negara seperti Vietnam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di samping itu, dukungan fiskal melalui percepatan restitusi pajak serta pembiayaan ekspor dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) perlu diprioritaskan bagi sektor-sektor yang paling terdampak kebijakan tarif global, terutama industri tekstil dan alas kaki.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!