Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ekspor Melemah, Pemerintah Diminta Percepat Hilirisasi dan Diversifikasi Pasar Global

📅 Minggu, 05 Jul 2026, 06:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ekspor Melemah, Pemerintah Diminta Percepat Hilirisasi dan Diversifikasi Pasar Global Doc: Antara
Ket. Foto udara bongkar muat peti kemas di Dermaga Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (2/7). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif pada Januari hingga Mei 2026 mengalami surplus 4,03 miliar dolar AS, dengan rincian ekspor 115,36 miliar dolar AS dan impor Rp111,33 miliar dolar AS.

Jakarta – Melemahnya kinerja ekspor Indonesia menjadi sinyal perlunya langkah strategis untuk memperkuat daya saing di pasar internasional. Setelah Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir, sejumlah ekonom mendorong pemerintah mempercepat ekspor produk bernilai tambah, memperkuat hilirisasi industri, memperluas pasar tujuan ekspor, serta mempercepat penyelesaian berbagai perjanjian dagang internasional.

Menurut para ekonom, langkah tersebut penting untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas primer sekaligus menjaga ketahanan ekspor di tengah perlambatan ekonomi global. Diversifikasi pasar ke kawasan nontradisional seperti Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin juga dinilai dapat membuka peluang baru bagi produk Indonesia.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan promosi dagang untuk mendongkrak ekspor hingga akhir tahun. Menurutnya, strategi utama harus diarahkan pada percepatan ekspor sektor-sektor yang memiliki nilai tambah tinggi.

"Untuk sisa tahun ini, strategi mendorong ekspor tidak cukup hanya dengan promosi dagang. Pemerintah perlu mempercepat ekspor sektor yang punya nilai tambah tinggi, terutama produk manufaktur, makanan olahan, kimia, farmasi, komponen otomotif, tekstil bernilai tambah, serta produk hilirisasi yang tidak berhenti di bahan setengah jadi," kata Rizal.

Ia menilai defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 menjadi sinyal melemahnya ekspor nasional di tengah lonjakan kebutuhan impor, terutama minyak dan gas (migas) serta bahan baku industri.

Menurut Rizal, kondisi tersebut juga menunjukkan masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor migas. Ketika harga energi dunia dan volume impor meningkat, neraca perdagangan nasional langsung mengalami tekanan.

Selain itu, ia menilai struktur ekspor Indonesia masih terlalu bergantung pada komoditas primer dan hasil hilirisasi yang belum optimal. Akibatnya, kinerja ekspor sangat dipengaruhi oleh pelemahan harga komoditas global, perlambatan permintaan dunia, serta tekanan dari negara-negara mitra dagang utama.

Karena itu, Rizal mendorong pemerintah memperkuat hilirisasi dengan mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi sebelum diekspor, seperti produk berbasis logam, kelapa sawit, dan hasil pertanian, sehingga mampu menghasilkan nilai tambah dan devisa yang lebih besar.

Ia juga menyarankan agar pemerintah meningkatkan volume ekspor, melakukan diversifikasi produk, serta memperluas pasar ke negara-negara nontradisional seperti India, kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.

Dalam jangka pendek, Rizal meminta pemerintah menyederhanakan birokrasi ekspor, memperkuat pembiayaan ekspor, mempercepat restitusi pajak, menurunkan hambatan logistik di pelabuhan, menjamin pasokan bahan baku industri, serta menjaga stabilitas nilai tukar agar biaya eksportir tetap kompetitif.

Daya Saing Ekspor

Di sisi lain, ia menilai impor migas perlu ditekan melalui peningkatan efisiensi energi, pemanfaatan energi domestik sebagai substitusi impor, serta pengendalian impor barang konsumsi yang tidak produktif.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS atau meningkat sekitar 59 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Defisit tersebut dipicu lonjakan impor, terutama akibat kenaikan harga minyak dan gas dunia.

Defisit pada Mei 2026 juga mengakhiri tren surplus neraca perdagangan Indonesia yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. BPS mencatat neraca perdagangan migas mengalami defisit sebesar 3,76 miliar dolar AS yang terutama berasal dari tingginya impor minyak mentah dan hasil minyak.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

03 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.