Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ekspor Beras ke Singapura Dianggap Peluang Besar, Tapi Harga Beras Dalam Negeri Masih Jadi PR

📅 Jumat, 03 Jul 2026, 06:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ekspor Beras ke Singapura Dianggap Peluang Besar, Tapi Harga Beras Dalam Negeri Masih Jadi PR Doc: Antara
Ket. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono (kanan) mendampingi Presiden Prabowo Subianto (kiri) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kompleks Gudang Perum Bulog Danurejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (18/4).

Jakarta – Rencana pemerintah mengekspor 10 ribu ton beras ke Singapura dinilai memiliki peluang ekonomi dan diplomasi pangan yang cukup menjanjikan. Namun, sejumlah ekonom mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak hanya berfokus pada penyerapan surplus stok, melainkan juga mempertimbangkan keberlanjutan ketahanan pangan nasional dan kondisi harga beras di dalam negeri.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan kerja sama pangan Indonesia–Singapura memang strategis karena dapat memperkuat perdagangan dan diversifikasi rantai pasok kedua negara.

“Bagi Indonesia, ini bisa menjadi solusi untuk menyerap surplus produksi domestik. Sementara bagi Singapura, kolaborasi ini memperkuat diversifikasi pasokan pangan mereka,” kata Esther di Jakarta, Kamis (2/7).

Meski demikian, Esther menilai pemerintah perlu berhati-hati karena pasar beras internasional tidak mudah ditembus. Persaingan harga cukup ketat, pasokan global sedang melimpah, dan standar kualitas beras ekspor cenderung lebih tinggi dibandingkan beras konsumsi umum di dalam negeri.

Ia menyoroti bahwa sebagian besar stok beras pemerintah saat ini masih didominasi beras medium, sementara pasar ekspor tertentu lebih banyak menyerap beras premium. Karena itu, peningkatan kualitas dan standardisasi produk menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.

“Jangan sampai semangat ekspor lebih cepat daripada kesiapan kualitas produk dan strategi pasarnya,” ujarnya.

Esther juga mengingatkan bahwa capaian swasembada saat ini masih terbatas pada komoditas beras konsumsi umum. Indonesia masih bergantung pada impor untuk sejumlah komoditas strategis seperti kedelai, jagung pakan, daging sapi, serta beras khusus seperti Basmati dan Japonica.

Dengan demikian, menurutnya, keberhasilan menjaga stok beras tinggi belum otomatis berarti Indonesia telah sepenuhnya mandiri pangan.

“Swasembada beras adalah kemajuan positif, tetapi agenda kemandirian pangan nasional masih jauh lebih luas,” katanya.

Di sisi lain, kondisi pasar dalam negeri juga belum sepenuhnya stabil. Harga beras di tingkat konsumen masih dipengaruhi oleh rantai distribusi, biaya logistik, dan cuaca ekstrem yang dalam beberapa waktu terakhir turut mendorong inflasi pangan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan: apakah ekspor sudah menjadi prioritas yang tepat ketika sebagian masyarakat masih menghadapi harga beras yang relatif tinggi?

Esther menilai ekspor tetap dapat dilakukan, tetapi harus terukur dan bertahap dengan syarat pasokan domestik benar-benar aman serta stabilitas harga tetap terjaga.

Petani Mendukung, Pemerintah Diminta Tetap Waspada

Di pihak lain, Kontak Tani Nelayan Andalan mendukung rencana ekspor tersebut. Ketua Umum KTNA Mohammad Yadi Sofyan Noor menilai stok beras nasional yang telah mencapai lebih dari 5 juta ton perlu segera disalurkan agar tidak menumpuk terlalu lama di gudang.

“Semakin berkurang stok, nilai gabah petani justru bisa lebih baik,” kata Yadi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
Yunani Diguncang Demo Besar...
Luar Negeri
Sultan Oman dan PM Inggris ...
Luar Negeri
Ribuan Warga RD Kongo Melar...
Luar Negeri
Kanada Perkuat Industri Str...
Luar Negeri
Efek El Nino, Banjir Bandan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

22 Oct 2026
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.