Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hujan Deras Rendam Surabaya, Genangan Muncul di Sejumlah Titik Sejak Subuh.

📅 Selasa, 23 Jun 2026, 10:21 WIB | Oleh:
Hujan Deras Rendam Surabaya, Genangan Muncul di Sejumlah Titik Sejak Subuh. Doc: Antara Foto
Ket. Banjir menggenangi Jalan Raya Simo Kalangan, Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (22/6/2026). Dua unit mobil pemadam kebakaran bersama sejumlah petugas melakukan penyedotan air untuk mengurangi genangan dan menormalisasi arus lalu lintas di kawasan tersebut.

 Hujan deras yang turun sejak subuh pada Senin, 22 Juni 2026, mengubah ritme Kota Surabaya, Jawa Timur, dalam beberapa jam. Jalan yang semestinya mengalirkan pekerja, pelajar, dan logistik berubah menjadi ruang tunggu. Kendaraan melambat, sebagian mogok, sementara genangan muncul dari kawasan barat hingga timur kota.

Peristiwa itu tidak semata-mata soal hujan yang terlalu deras. Surabaya sedang menghadapi pertemuan tiga arus yang bekerja dalam waktu bersamaan, yakni hujan lokal berintensitas sedang hingga lebat, limpahan air dari kawasan yang lebih tinggi, dan pasang laut yang memperlambat pembuangan air menuju hilir.

Di kota pesisir, drainase bukan hanya persoalan saluran di bawah jalan. Ia adalah sistem yang terhubung dari hulu, permukiman, sungai, rumah pompa, hingga laut. Ketika laut sedang pasang, air dari kota tidak selalu memiliki ruang untuk segera keluar. Pompa tetap bekerja, tetapi daya dorongnya berhadapan dengan tekanan dari arah sebaliknya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Surabaya pada pagi hari itu. Peringatan tersebut menunjukkan bahwa hujan pada masa kemarau bukanlah sesuatu yang mustahil, terutama ketika kondisi atmosfer lokal mendukung pembentukan awan hujan.

Genangan di sejumlah titik kemudian menjadi pengingat bahwa kota modern tidak cukup hanya membangun jalan yang lebar dan kawasan yang tumbuh cepat. Kota juga harus memastikan air memiliki jalan pulang.

Kota yang menurun

Surabaya memiliki karakter geografis yang membuat pengendalian air menjadi pekerjaan yang tidak sederhana. Kawasan tertentu menerima limpahan dari wilayah lebih tinggi di bagian barat dan selatan, lalu mengalirkannya ke daerah yang lebih rendah sebelum bermuara ke sungai dan laut.

Kawasan Simo, misalnya, dapat menerima beban aliran dari area yang lebih tinggi, seperti Dukuh Pakis dan HR Muhammad. Ketika hujan turun serentak, air tidak hanya menggenangi titik tempat hujan jatuh, tetapi juga bergerak mengikuti kontur kota. Di sinilah genangan harus dipahami sebagai persoalan satu kesatuan daerah tangkapan air, bukan sekadar masalah per kecamatan atau per ruas jalan.

Pada saat yang sama, kawasan seperti Tanjungsari, Tambak Mayor, Nginden, Ngagel, dan Bratang menunjukkan kerentanan yang berbeda-beda. Ada wilayah yang terkendala kapasitas saluran, ada yang dipengaruhi aliran menuju Kali Greges, dan ada pula yang menghadapi hambatan karena muka air di hilir sedang tinggi.

Fenomena pasang laut menciptakan efek aliran balik. Air dari saluran kota yang seharusnya bergerak menuju laut tertahan karena muka air penerima lebih tinggi. Dalam kondisi demikian, rumah pompa tidak kehilangan fungsi, tetapi efektivitasnya menjadi terbatas. Memompa air tanpa memperhitungkan kondisi hilir dapat membuat air kembali tertahan di sistem yang sama.

Karena itu, rumah pompa tidak dapat diperlakukan sebagai jawaban tunggal. Pompa adalah bagian penting dari sistem, tetapi bukan pengganti bagi saluran yang memadai, bozem yang cukup, sungai yang bersih, serta tata ruang yang memberi ruang bagi air.

Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya juga mengingatkan bahwa sampah dan penyumbatan saluran dapat menghambat aliran serta mengganggu kerja pompa. Masalah ini tampak sederhana, tetapi dampaknya besar. Sampah yang masuk ke saluran bukan hanya memperlambat surutnya genangan, melainkan juga meningkatkan biaya pemeliharaan infrastruktur publik.

Di tengah pertumbuhan kota, setiap penutupan lahan terbuka, perubahan fungsi ruang, dan proyek konstruksi perlu dipastikan tidak memperbesar risiko limpasan. Air hujan yang dahulu meresap ke tanah, kini lebih banyak mengalir di atas permukaan kedap air. Akibatnya, saluran menerima debit yang lebih besar dalam waktu lebih singkat.

Menyiapkan ruang air

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ditentang AS, PBB Adopsi Resolusi 'Koreksi Peta Dunia', Benua Afrika Ternyata 14 Kali Lebih Besar!
    Indonesia lebih besar dari Eropa. Jarak antara Sabang ...
  • Sapi Aceh Dibawa ke Pulau Terluar, Aceh Besar Bidik Ketahanan Pangan
    Kenapa harus ke pulau aceh pengembangan plasma nutfah ...
  • Aturan Insentif Motor Listrik Masih Digodok, Pemerintah Siapkan Rancangan Perpres
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai urgensi payung hukum ...
  • Magang Nasional 2026 Tahap II Dibuka, Anak Muda Berebut Kesempatan Masuk Industri
    Kesenjangan kompetensi yang menjadi latar belakang program Magang ...
  • Diserbu Produk China Murah! Industri Plastik RI Nyaris Tumbang dari Hulu ke Hilir
    Artikel ini memberikan pencerahan yang sangat berimbang dan ...
Advertisement
kai-expo-detail-sidebar
Advertisement
Mengapa Erupsi Anak Krakatau Bisa Terdengar sampai Bandung? Ini Penjelasan Daryono

Mengapa Erupsi Anak Krakatau Bisa Terdengar sampai Bandung? Ini Penjelasan Daryono

05 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.