Hadapi El Nino Godzilla, Benih Tahan Kekeringan Dinilai Kunci Jaga Produksi Pangan Nasional
📅 Jumat, 19 Jun 2026, 18:25 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta - Penggunaan benih tahan kekeringan dan varietas unggul dinilai menjadi salah satu kunci penting untuk menjaga produksi pangan nasional di tengah ancaman fenomena El Nino Godzilla.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, mendorong pemerintah mempercepat distribusi benih tahan kekeringan dan varietas unggul guna menekan risiko gagal panen akibat potensi fenomena El Nino Godzilla. Menurutnya, penggunaan varietas padi, jagung, dan kedelai yang lebih efisien dalam penggunaan air atau memiliki umur panen lebih singkat dapat membantu petani menghadapi musim kemarau panjang sekaligus menjaga produktivitas pertanian.
“Perlu juga penggunaan benih tahan kekeringan dan varietas unggul. Varietas padi, jagung, kedelai yang lebih efisien air atau cepat panen dapat mengurangi risiko gagal panen 10–15 persen,” kata Eliza di Jakarta, Jumat (19/6).
Ia menilai percepatan distribusi benih unggul harus dibarengi dengan penyuluhan yang intensif agar petani mampu menerapkan teknologi budidaya secara optimal sesuai kondisi wilayah masing-masing. Menurut dia, penggunaan varietas yang tepat menjadi pelengkap penting bagi penguatan infrastruktur air karena kekeringan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pada fase-fase kritis.
Eliza menjelaskan padi merupakan komoditas yang paling rentan terhadap dampak El Nino karena membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar, terutama pada fase berbunga dan pengisian biji. Sawah tadah hujan serta lahan dengan sistem irigasi sederhana diperkirakan menjadi yang paling terdampak ketika kekeringan terjadi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain padi, jagung juga memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi, khususnya pada fase pembungaan. Meskipun kebutuhan airnya lebih rendah dibandingkan padi, banyak tanaman jagung dibudidayakan di lahan kering atau ditanam pada musim kemarau sehingga memerlukan strategi mitigasi yang tepat melalui pemilihan varietas dan pengelolaan air yang baik.
Sementara itu, tanaman hortikultura dinilai relatif lebih mudah dikelola dari sisi kebutuhan air melalui pemanfaatan pompanisasi. Namun demikian, komoditas hortikultura tetap menghadapi risiko meningkatnya serangan hama dan penyakit selama musim kemarau.
Karena itu, Eliza menekankan pentingnya kombinasi kebijakan yang mencakup penyediaan benih unggul, penyuluhan, pengelolaan air, serta respons cepat terhadap serangan hama dan penyakit. Ia optimistis target produksi pangan nasional masih dapat tercapai apabila langkah-langkah mitigasi dijalankan secara efektif dan efisien.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai contoh, Eliza menyoroti pengalaman China saat menghadapi El Nino pada 2023. Meski luas panen menurun, negara tersebut tetap mampu meningkatkan produksi berkat kenaikan produktivitas, pengelolaan lahan yang baik, serta pengendalian hama dan penyakit yang responsif.
“Target produksi masih bisa tercapai asalkan mitigasinya dilakukan secara efektif dan efisien. Jadi ini semua tergantung bauran kebijakan yang diambil,” ujarnya.
Menurut Eliza, kebijakan menghadapi El Nino tidak cukup hanya mengandalkan satu instrumen. Pemerintah perlu mengintegrasikan kesiapan benih, pengelolaan air, penyuluhan, dan manajemen lahan agar produksi pangan tetap terjaga.
Sejalan dengan itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan penggunaan varietas unggul yang adaptif menjadi salah satu strategi utama untuk menjaga produksi pangan di tengah ancaman kemarau dan perubahan iklim. Petani, kata dia, dapat memanfaatkan varietas genjah dan toleran kekeringan seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, dan Cakrabuana.
Pemerintah juga mendorong penggunaan varietas berumur pendek, teknologi hemat air, serta pengaturan pola tanam yang lebih efisien guna mengurangi dampak El Nino terhadap sektor pertanian. Selain itu, percepatan tanam terus didorong dengan mengupayakan jarak antara panen dan tanam kembali tidak lebih dari 14 hari untuk meningkatkan indeks pertanaman dan produksi pangan.
Dalam upaya mitigasi yang lebih luas, Amran menyebut pemerintah memperkuat berbagai infrastruktur pertanian, mulai dari pembangunan embung, irigasi pompa, sumur dalam, pompanisasi, optimalisasi lahan, hingga program cetak sawah baru.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!