Peningkatan Ekspor Dimulai dari Penguatan SDM dan IKM
📅 Rabu, 17 Jun 2026, 06:10 WIB | Oleh: Tim PenulisSektor Industri
JAKARTA – Penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dan pemberdayaan industri kecil menengah (IKM) menjadi faktor kunci untuk meningkatkan kontribusi ekspor industri. SDM yang lebih terampil akan mendorong peningkatan produktivitas, kualitas produk, dan kemampuan adaptasi terhadap standar pasar global, sementara penguatan IKM dapat memperluas basis pelaku ekspor nasional.
Jika kedua aspek ini berjalan beriringan, target peningkatan porsi pasar ekspor industri dari 20 persen menjadi 30 persen akan lebih realistis dicapai. Selain itu, langkah tersebut juag dapat memperkuat daya saing industri nasional di pasar internasional.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti menyampaikan Indonesia memiliki modal besar untuk memperkuat sektor manufaktur karena didukung ketersediaan sumber daya alam yang melimpah. Kondisi tersebut menurut dia, membuka peluang bagi Indonesia untuk menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi melalui pengolahan bahan baku menjadi produk jadi.
“Saya rasa kebijakan mendorong peningkatan kontribusi industri manufaktur adalah kebijakan yang harus dilakukan, mengingat Indonesia punya sumber daya alam melimpah sehingga potensi untuk memperoleh nilai tambah dengan mengolah bahan baku menjadi produk final sangat mungkin dilakukan,” ujar Esther dihubungi di Jakarta, Senin (16/6).
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, salah satu strategi utama yang perlu dilakukan adalah peningkatan kompetensi SDM melalui penyelarasan kurikulum pendidikan vokasi dan politeknik dengan kebutuhan industri manufaktur modern. Pendekatan link and match antara dunia pendidikan dan industri terus diperkuat untuk menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan sektor manufaktur.
Selain itu, Esther menekankan pentingnya penyediaan energi dan infrastruktur yang efisien guna meningkatkan daya saing industri nasional. Menurutnya, biaya logistik nasional perlu ditekan melalui pembangunan infrastruktur konektivitas yang merata, termasuk pelabuhan dan jalan tol, serta didukung pasokan energi yang kompetitif.
Di sisi lain, dia juga mendorong penerapan teknologi hijau dalam pengembangan industri nasional. Langkah tersebut dinilai penting agar pertumbuhan industri dapat berjalan berkelanjutan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemberdayaan UMKM
Esther menambahkan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) manufaktur juga menjadi faktor penting dalam memperkuat kinerja industri nasional. Menurutnya, industri kecil dan menengah perlu diintegrasikan ke dalam rantai pasok global melalui kemudahan akses pembiayaan serta dukungan sertifikasi standar mutu.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengupayakan porsi pasar ekspor industri manufaktur meningkat dari semula 20 persen menjadi 30 persen, tanpa mengurangi kemampuan memenuhi kebutuhan nasional. Dalam keterangan dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (9/6), Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa komposisi penjualan produk manufaktur saat ini masih didominasi pasar domestik, dengan sekitar 80 persen untuk kebutuhan dalam negeri dan 20 persen untuk ekspor.
Ke depan, Kemenperin menargetkan komposisi tersebut berubah menjadi 70 persen untuk pasar domestik dan 30 persen untuk pasar ekspor. Karenanya, Kemenperin terus memperkuat daya saing industri melalui pemberian insentif.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!