Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Lembah Harau, Bentang Alam yang Lahir dari Patahan Purba

📅 Jumat, 05 Jun 2026, 06:14 WIB | Oleh:

Di Harau yang berada pada ketinggian 500 hingga 850 meter di atas permukaan laut (mdpl), proses yang dominan adalah terbentuknya sesar normal atau sesar turun. Dalam mekanisme ini, satu blok batuan turun relatif terhadap blok di sebelahnya sehingga tercipta perbedaan elevasi yang sangat besar.

Blok yang turun kemudian berkembang menjadi lembah, sedangkan blok yang tetap tinggi membentuk tebing-tebing raksasa yang kini menjadi ciri khas Harau. Dengan kata lain, lembah yang saat ini dipenuhi sawah dan perkampungan dulunya merupakan bagian batuan yang “ambles” akibat aktivitas sesar.

Proses ini menghasilkan bentang alam yang sangat dramatis. Dinding-dinding batu yang kini tampak seperti dipahat secara vertikal sebenarnya merupakan bidang-bidang patahan yang telah mengalami pengikisan selama jutaan tahun.

Mengapa Air Terjun Bisa Bermunculan di Mana-Mana?

Inilah bagian paling menarik dari kisah geologi Harau. Ketika sesar turun membentuk lembah, aliran sungai yang sebelumnya mengalir relatif datar tiba-tiba menghadapi perbedaan ketinggian yang sangat besar.

Air yang mengalir dari dataran tinggi tidak lagi bisa mengikuti jalur lama sehingga harus jatuh menuju dasar lembah. Peristiwa tersebut melahirkan air terjun. Karena lembah Harau dibentuk oleh sistem patahan yang luas, banyak aliran air mengalami kondisi serupa. Akibatnya, muncul sejumlah air terjun yang tersebar di berbagai sisi tebing.

Badan Geologi Kementerian ESDM bahkan menetapkan Kompleks Air Terjun Lembah Harau sebagai situs warisan geologi karena menjadi contoh bentang alam air terjun yang terbentuk akibat proses pensesaran atau patahan bumi.

Fenomena ini membuat Harau berbeda dari banyak air terjun lain di Indonesia yang terbentuk terutama akibat erosi sungai atau aktivitas vulkanik. Di Harau, keberadaan air terjun merupakan bukti nyata bagaimana tenaga dari dalam bumi mampu membentuk lanskap yang kemudian diperindah oleh air dan waktu.

Menyimpan Rekam Jejak Bumi yang Lebih Tua

Meski tebing-tebing utama Harau tersusun oleh batuan Formasi Brani berumur 33–23 juta tahun, kawasan ini juga menyimpan batuan yang jauh lebih tua. Di beberapa bagian kompleks Harau ditemukan batuan dari Formasi Kuantan yang berumur Karbon hingga Perem, sekitar 358–251 juta tahun lalu.

Batuan tersebut tersingkap ke permukaan akibat aktivitas sesar naik yang terjadi setelahnya. Artinya, dalam satu kawasan wisata, pengunjung dapat melihat rekaman sejarah bumi yang mencakup rentang waktu lebih dari 300 juta tahun.

Bagi geolog, Harau bukan sekadar objek wisata, melainkan sebuah arsip alam yang menyimpan catatan mengenai perubahan lingkungan, aktivitas sungai purba, pergerakan sesar, hingga evolusi bentang alam Sumatra.

Laboratorium Alam

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar

Perum Bulog Percepat Penyaluran Bantuan Pangan di Depok

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Megapolitan
Perum Bulog Percepat Penyal...
Megapolitan
Tangerang 10K Jadi Pintu Ma...
Megapolitan
102 Ribu Warga Depok Segera...
Daerah
Insiden Kapal Virgo: 1 Penu...
Advertisement
Cuaca Buruk, Kapal Virgo Transport Membawa 243 Orang Hilang Kontak di Laut Jawa

Cuaca Buruk, Kapal Virgo Transport Membawa 243 Orang Hilang Kontak di Laut Jawa

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.