Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pemerintah Diminta Perkuat Ekosistem Ekraf

📅 Kamis, 04 Jun 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Diminta Perkuat Ekosistem Ekraf Doc: antara
Ket. Industri Kreatif - Pengusaha Muda Didorong Tembus Pasar Global

Struktur ekspor ekraf masih didominasi subsektor tradisional. Sementara yang berbasis kekayaan intelektual belum memberikan kontribusi yang optimal.

JAKARTA – Pertumbuhan sektor ekonomi kreatif (ekraf) Indonesia terus menunjukkan tren positif sepanjang 2025 hingga semester pertama 2026. Namun, capaian tersebut dinilai harus dibarengi dengan pembangunan ekosistem yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan agar manfaatnya benar-benar dirasakan para pelaku industri.

Anggota Komisi VII DPR RI, Hendry Munief, mengapresiasi peningkatan kinerja sektor ekonomi kreatif yang tercermin dari naiknya investasi dan ekspor. Berdasarkan paparan dalam rapat kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Ekonomi Kreatif, investasi sektor ekraf pada triwulan I 2026 mencapai 11,33 triliun rupiah, sementara nilai ekspornya menembus 7,38 miliar dollar AS.

Meski demikian, Hendry mengingatkan bahwa pertumbuhan angka makro belum tentu mencerminkan kondisi nyata yang dihadapi pelaku industri kreatif di lapangan.

“Dari apa yang disampaikan Bapak Menteri, bahwa pertumbuhan ekonomi kreatif naik dengan cukup luar biasa, tetapi ada satu pertanyaan besar, apakah ekosistemnya juga sehat?” kata Hendry, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta, Rabu (3/6).

Menurut dia, pertumbuhan sektor ekonomi kreatif memang layak diapresiasi. Namun, masih terdapat berbagai persoalan mendasar yang perlu segera diselesaikan agar industri ini dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Dari narasi pertumbuhan saya pikir ini sudah sangat baik dan patut diapresiasi, tetapi ada kondisi realitas ekosistem yang perlu kita perhatikan bersama,” ujarnya.

Salah satu tantangan utama yang disoroti adalah maraknya pembajakan digital yang masih merugikan para kreator dan pelaku usaha kreatif. Praktik penyebaran konten ilegal dinilai terus menggerus potensi pendapatan industri.

“Konten berbayar masih dibajak dan praktik streaming ilegal masih marak. Ini menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan industri kreatif kita,” katanya.

Selain itu, Hendry juga menyoroti kesejahteraan pekerja kreatif yang dinilai masih jauh dari ideal. Banyak pekerja di sektor tersebut masih menghadapi upah rendah, jam kerja panjang, serta minimnya kepastian kerja.

“Kita masih melihat upah yang rendah, jam kerja yang panjang, dan ketidakpastian kerja yang dialami banyak pekerja kreatif,” ujarnya.

Di sisi lain, ia menilai struktur ekspor ekonomi kreatif Indonesia masih didominasi subsektor tradisional seperti fesyen, kriya, dan kuliner. Sementara subsektor berbasis kekayaan intelektual (IP) seperti gim, animasi, film, dan aplikasi digital belum memberikan kontribusi yang optimal.

Penguatan Daya Saing

Sementara itu, upaya memperkuat daya saing pelaku usaha kreatif juga terus didorong oleh berbagai pihak. Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Banten, misalnya, berkomitmen memperkuat kapasitas pengusaha muda agar mampu meningkatkan ekspor dan bersaing di pasar global.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Pertemuan Menlu ASEAN Dibuk...
Trump Perintahkan Pemberlakuan Tarif Baru 50% untuk Barang Kanada

Trump Perintahkan Pemberlakuan Tarif Baru 50% untuk Barang Kanada

21 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.