Serius Ada Cadangan Beras 4,8 Juta Ton? Kok Beras Tetap Mahal
📅 Jumat, 02 Okt 2026, 12:49 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Andai benar ada cadangan 4,8 juta ton beras, harusnya di masyarakat harga beras lebih murah dari sekarang. Sebab kata Ketua Komisi IV DPR Titiek Soeharto cadangan beras nasional yang dikelola Bulog saat ini sekitar 4,8 juta ton dapat mencegah kekhawatiran masyarakat soal risiko kelangkaan beras.
"Kebutuhan beras ini untuk seluruh Indonesia bisa punya cadangan beras yang cukup, sekarang cadangan berasnya 4,8 juta ton per hari ini, jadi tidak usah khawatir bahwa kita akan kelangkaan beras," kata Titiek saat memantau ketersediaan dan harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, Jumat. Ya, tidak langka tapi mahal kan sama saja.
Titiek mengatakan cadangan beras menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pasokan sekaligus mengendalikan pergerakan harga di pasar.
Selain itu, cadangan beras yang mencukupi bahkan melebihi kebutuhan dapat menjadi antisipasi jika terjadi peningkatan kebutuhan masyarakat maupun perubahan kondisi pasokan.
"Kalau stoknya banyak berarti harganya bisa terkendali, tidak fluktuasi, tidak bisa diatur lagi," kata Titiek.
Dalam kunjungannya, Titiek juga melihat secara langsung kondisi stok beras di sejumlah kios Pasar Induk Beras Cipinang bersama Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal.
"Yang penting tidak ada yang sekarang orang bisa atur-atur harga beras sampai harganya bisa tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh konsumen," katanya.
Ia juga mengapresiasi kondisi produksi beras dalam negeri yang dinilai mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga ketergantungan terhadap beras impor dapat ditekan.
Putri dari Presiden Ke-2 RI Soeharto, tersebut memastikan beras yang tersedia di pasar saat ini berasal dari produksi dalam negeri.
"Yang penting kita ini tidak impor lagi, semuanya sudah diproduksi dalam negeri. Tidak ada kelangkaan beras, ada terus stoknya, yang beras favorit juga ada terus tersedia," kata Titiek.
Menurut Titiek, peningkatan produksi dalam negeri tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan nasional, tetapi juga berdampak terhadap pendapatan petani sebagai produsen.
Dengan produksi yang tinggi dan terserap pasar, Titiek berharap kondisi tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi petani dan mendorong peningkatan kesejahteraan mereka.
"Alhamdulillah dengan produksi yang sekian banyak berarti petaninya maju dan mudah-mudahan bisa makmur. Masalah beras ini bukan hanya masalah ketersediaan stok saja tetapi juga didistribusikan dari produsen dan juga dari Bulog ke pasar itu secara efektif," kata Titiek.
Lebih lanjut, Titiek juga mengapresiasi kerja Perum Bulog dalam menjaga ketersediaan cadangan beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!