Ekonomi AS Hanya Tumbuh 1,6 Persen, Inflasi Sentuh Level Tertinggi dalam 3 Tahun
📅 Jumat, 29 Mei 2026, 05:30 WIB | Oleh: Tim PenulisWashington - Ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh lebih rendah dari perkiraan awal pada kuartal pertama 2026, menurut data pemerintah yang dirilis pada Kamis (28/5). Di saat yang sama, indikator inflasi utama mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir akibat dampak perang di Timur Tengah.
Data tersebut menjadi peringatan atas tekanan yang sedang dihadapi rumah tangga di AS menjelang pemilu paruh waktu, ketika kenaikan harga bahan bakar mulai membebani anggaran masyarakat dan efek bantuan pengembalian pajak mulai memudar.
Produk domestik bruto (PDB) ekonomi terbesar dunia itu tercatat tumbuh pada laju tahunan 1,6 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini, menurut Departemen Perdagangan AS.
Angka tersebut lebih rendah dibanding estimasi sebelumnya sebesar 2,0 persen. Penurunan itu terutama disebabkan revisi turun pada investasi dan belanja konsumen.
“Data terbaru menunjukkan pengeluaran jasa, khususnya layanan kesehatan, melambat dan persediaan bisnis turun lebih besar dari perkiraan sebelumnya,” kata ekonom Oxford Economics Michael Pearce.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Pearce, revisi turun pada belanja konsumen kuartal pertama ditambah perlambatan pada April menunjukkan bahwa konsumen mulai berada di bawah tekanan.
Ia merujuk pada laporan lain yang menunjukkan ukuran inflasi pilihan bank sentral AS atau Federal Reserve mengalami kenaikan tertinggi secara tahunan sejak 2023.
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) naik 3,8 persen dibanding setahun sebelumnya, meningkat dari 3,5 persen pada Maret, menurut Departemen Perdagangan AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengeluaran konsumsi pribadi warga AS naik 0,5 persen pada April, tetapi pendapatan pribadi setelah dipotong pajak justru turun 0,1 persen.
“Terlihat jelas bagaimana warga Amerika saat ini mulai tertekan secara finansial,” ujar Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union Heather Long.
Pearce memperkirakan kenaikan harga energi kemungkinan akan membuat pertumbuhan ekonomi AS tetap moderat sepanjang tahun ini.
Biaya energi melonjak setelah serangan gabungan AS-Israel yang menargetkan Iran pada 28 Februari memicu konflik besar di Timur Tengah dan mendorong pembalasan Teheran yang nyaris memblokir Selat Hormuz.
Jalur laut strategis itu biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, serta menjadi jalur penting perdagangan pupuk global.
Akibatnya, biaya energi global melonjak, termasuk harga bensin di AS yang naik tajam dan semakin membebani konsumen menjelang pemilu akhir tahun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!