Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Generasi Muda Kini Hadapi Bentuk Baru Penjajahan Era Digital

📅 Senin, 25 Mei 2026, 03:07 WIB | Oleh: Tim Penulis
Generasi Muda Kini Hadapi Bentuk Baru Penjajahan Era Digital Doc: Antara
Ket. Wakil Menteri (Wamen) Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria menjawab pertanyaan dalam program siniar (podcast) saat mengunjungi Antara Heritage Center (AHC) di Jakarta, Selasa (24/2/2026).

JAKARTA - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan generasi muda Indonesia menghadapi bentuk baru penjajahan di era digital, yakni dominasi algoritma yang secara perlahan membentuk cara berpikir, perilaku, hingga persepsi publik.

Menurut Nezar, masyarakat saat ini hidup dalam ruang digital yang dikendalikan platform dan algoritma media sosial, membuat manusia semakin sulit membedakan fakta, opini, hingga manipulasi informasi.

“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” ujarnya melalui keterangan resmi diterima di Jakarta, Minggu (24/5).

Wamen Nezar menilai kondisi tersebut menjadi ancaman serius karena dapat memicu polarisasi sosial, memperkuat misinformasi, dan melemahkan kemampuan berpikir kritis masyarakat, terutama generasi muda.

Ia mengutip laporan World Economic Forum yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar tahun 2026, bahkan melampaui banyak ancaman geopolitik dunia.

“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” tegasnya.

Perkembangan AI

Dalam paparannya, Wamen Nezar juga menyoroti perubahan besar akibat perkembangan artificial intelligence (kecerdasan artifisial) atau AI yang kini bergerak sangat cepat, mulai dari generative AI, agentic AI, hingga physical AI berbasis robotika.

Menurutnya, dunia sedang memasuki fase baru persaingan global yang bukan lagi sekadar perebutan sumber daya alam, tetapi penguasaan data, komputasi, semikonduktor, dan talenta digital.

“Hari ini perang yang paling penting adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi. Kalau Indonesia hanya jadi pengguna teknologi, bonus demografi kita akan hilang tanpa dampak besar,” katanya.

Wamenkomdigi menjelaskan Indonesia sebenarnya memiliki modal besar berupa bonus demografi dan kekayaan mineral strategis yang dibutuhkan industri teknologi global.

Namun, ia mengingatkan bahwa keunggulan itu tidak akan berarti tanpa kualitas sumber daya manusia yang mampu menguasai sains dan teknologi.

Karena itu, ia meminta generasi muda memperkuat kemampuan science, technology, engineering, and mathematics atau STEM serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak manipulasi algoritma.

“Kita harus masuk menjadi pemain dalam industri digital global. Jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi,” tandasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Tim Gabungan Evakuasi 26 Pe...
100% Dalam 4 Menit , Tiongkok Kembangkan Baterai Natrium yang Diklaim Awet Bertahun-tahun

100% Dalam 4 Menit , Tiongkok Kembangkan Baterai Natrium yang Diklaim Awet Bertahun-tahun

13 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.