Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perubahan Aturan Terlalu Cepat dan Sulit Diprediksi, Bukti RI Belum Ada Kepastian Hukum

📅 Rabu, 20 Mei 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Dia mengusulkan agar peran teknokrat dalam proses penyusunan kebijakan diperkuat agar tidak mudah berubah setiap kali terjadi pergantian pemerintahan.

Dikelola dengan Tepat

Diminta dalam kesempatan terpisah, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro Undip Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan peluang investasi di Indonesia masih sangat besar dan bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi jika dikelola dengan tepat.

“Salah satu strategi untuk meningkatkan performa ekonomi adalah meningkatkan investasi,” kata Esther.

Dengan pengelolaan yang baik dan kepastian arah kebijakan, dia optimistis Indonesia bisa menarik investasi berkualitas yang masuk ke sektor produktif, bukan hanya sekadar investasi portofolio jangka pendek.

Peneliti ekonomi Center of Reform on Economics CORE Indonesia Yusuf Rendi Manilet mengatakan ketika stabilitas rupiah terlalu bertumpu pada yield premium dan suku bunga tinggi untuk menarik modal asing, arus yang masuk memang cenderung didominasi portfolio inflow yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global,” katanya.

Kritik bahwa instrumen moneter saja tidak cukup untuk membangun fondasi ketahanan eksternal memang valid. Namun ia mengingatkan, tekanan terhadap rupiah beberapa bulan terakhir tidak bisa dijelaskan hanya dari faktor domestik.

Bagi investor, kepastian hukum dan konsistensi kebijakan bukan sekadar syarat dasar, tetapi menjadi penentu daya saing ekosistem investasi secara keseluruhan. “Investor tidak hanya melihat apakah aturan ada atau tidak, melainkan apakah keseluruhan ekosistem investasinya kompetitif.

Ia menilai tantangan Indonesia justru terletak pada perubahan aturan yang terlalu cepat dan kurang terprediksi. Perubahan insentif fiskal, penyesuaian kebijakan devisa hasil ekspor, revisi aturan sektoral, hingga pergantian desain kelembagaan yang terlalu sering membuat investor membaca adanya regulatory risk.

“Untuk investasi greenfield yang horizon pengembaliannya bisa 10 sampai 20 tahun, kepastian arah kebijakan jauh lebih penting dibanding sekadar insentif jangka pendek,” katanya.

Investor tambahnya tidak butuh kebijakan yang stagnan, melainkan kebijakan yang konsisten arah dan kerangkanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kemenperin akan Gunakan Nilai Tambah untuk Ukur Kinerja Manufaktur
    Keberhasilan Indonesia menempati peringkat ke-12 dunia sekaligus memimpin ...
  • Kemenperin akan Arahkan Industri 2027 pada Hilirisasi dan Industri Hijau
    Prestasi Indonesia yang berhasil naik ke peringkat 12 ...
  • Pria tanpa identitas Tewas Tersengat Listrik saat Curi Kabel LRT
    Wajar sih kalau mati, justru aneh klo tidak ...
  • Meski Melambat, Industri Tetap Ekspansi! Kemenperin: Ini 2 Sektor Paling Moncer
    Meskipun data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 ...
  • Kawasan Industri Tak Lagi Kompetitif, Investor Mulai Melirik Vietnam
    Meskipun banyak pabrik di Indonesia kini mulai beralih ...
Luar Negeri
NTT Bikin Kejutan! Neraca P...

Status Gunung Sinabung Masih Level Siaga

59 menit yang lalu | Fajar Alim M

Daerah
Status Gunung Sinabung Masi...
Advertisement
Bye-Bye Calo! Kemen ATR/BPN Pangkas Urus Peralihan Hak Tanah Cuma 10 Hari!

Bye-Bye Calo! Kemen ATR/BPN Pangkas Urus Peralihan Hak Tanah Cuma 10 Hari!

03 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.