Krisis Minyak Dorong Asean Percepat Transisi Energi Terbarukan
📅 Rabu, 13 Mei 2026, 00:20 WIB | Oleh: Tim RedaksiKelangkaan Pasokan - Pemimpin Dunia Sepakat Pentingnya Rantai Pasok Energi yang Stabil
Ketergantungan pada energi fosil dinilai semakin berisiko di tengah fluktuasi harga dan potensi kelangkaan pasokan.
Jakarta – Ketidakpastian pasokan energi global yang dipicu oleh konflik geopolitik dan gangguan rantai distribusi mendorong negara-negara Asean (Perhimpunan Bangsabangsa Asia Tenggara) untuk mempercepat transisi menuju energi terbarukan.
Situasi ini membuat isu ketahanan energi kembali menjadi perhatian utama di kawasan.
Pengamat Hubungan Internasional Teuku Rezasyah menilai kondisi tersebut perlu dikaji secara mendalam, terutama terkait posisi energi di masingmasing negara Asean di tengah dinamika geopolitik global dan perubahan pola pasokan energi dunia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seperti dikutip dari Antara, Dosen Hubungan Internasional President University itu menjelaskan bahwa kajian komprehensif diperlukan untuk memahami kondisi energi kawasan Asean secara menyeluruh, baik sebelum maupun setelah meningkatnya ketegangan geopolitik internasional, termasuk dampak konflik di Timur Tengah.
Ia menambahkan bahwa setiap negara di Asia Tenggara memiliki kebutuhan dan tingkat ketergantungan energi yang berbeda.
Sebagian negara masih sangat bergantung pada minyak bumi, sementara negara lainnya mulai mempercepat langkah transisi menuju sumber energi terbarukan sebagai upaya mengurangi risiko ketergantungan jangka panjang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam konteks tersebut, Rezasyah menilai dorongan percepatan ratifikasi Asean Petroleum Security Agreement (APSA) sebagai langkah penting, meski implementasinya diperkirakan tidak mudah.
Ia menyoroti posisi Indonesia sebagai negara dengan kebutuhan energi terbesar di kawasan Asean karena jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan yang luas.
“Tidak mustahil akan terlahir stigma baru, di mana Indonesia sebagai konsumen terbesar menggunakan mekanisme Asean sebagai kekuatan tawar baru dalam berhubungan dengan negara-negara eksportir minyak,” katanya.
Karena itu, ia mendorong Indonesia mempercepat diversifikasi energi, termasuk pemanfaatan tenaga surya, angin, panas bumi, serta energi berbasis pengolahan sampah.
Proses Ratifikasi Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asean Kao Kim Hourn memastikan bahwa ratifikasi APSA akan diselesaikan sebelum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean ke-49 pada akhir 2026.
“Para pejabat negara telah menerima instruksi dari para pemimpin mereka bahwa proses ratifikasi APSA harus dipercepat oleh semua negara anggota,” ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!