25 Dosen UB Perkuat Pembangunan Kawasan Transmigrasi
📅 Jumat, 03 Jul 2026, 16:18 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SMALANG - Sebanyak 25 dosen lintas disiplin Universitas Brawijaya terpilih menjadi bagian dari Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026, sebuah program strategis Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia yang menghimpun Sumber Daya Manusia unggul dari perguruan tinggi terbaik untuk melakukan riset, kajian, dan pendampingan di kawasan transmigrasi sebagai upaya mempercepat pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui Tim Ekspedisi Patriot, pemerintah tidak hanya menghadirkan tenaga ahli ke lapangan, tetapi juga mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan sebagai dasar penyusunan rekomendasi pembangunan kawasan transmigrasi. Hasil kajian dan pendampingan para akademisi diharapkan mampu mendukung terwujudnya kawasan ekonomi baru yang lebih maju, mandiri, dan berkelanjutan.
Direktur Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Kementerian Transmigrasi RI, Bondan Djati Utami, S.Si., M.M., menjelaskan di tahun 2026 kemitraan Tim Ekspedisi Patriot melibatkan sepuluh perguruan tinggi terbaik di Indonesia, meningkat dari tujuh perguruan tinggi pada tahun sebelumnya. Universitas Brawijaya menjadi salah satu perguruan tinggi yang dipercaya bergabung dalam program strategis tersebut.
Direktur Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi, Bondan Djati Utami
“Tahun 2026 kami bekerja sama dengan sepuluh perguruan tinggi terbaik di Indonesia, salah satunya Universitas Brawijaya. Tahun sebelumnya kami melibatkan tujuh perguruan tinggi karena program ini masih baru, sehingga tahun ini kemitraan kami perluas,” ujar Bondan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Bondan, Tim Ekspedisi Patriot merupakan wadah bagi sumber daya manusia unggul untuk melakukan kajian, riset, dan pendampingan di kawasan transmigrasi. Hasil kegiatan tersebut akan menjadi dasar penyusunan rencana pengembangan kawasan sehingga mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat sekaligus memperkuat pembangunan wilayah transmigrasi.
“Kami berharap dengan keberadaan Universitas Brawijaya dalam Tim Ekspedisi Patriot ini dapat membantu mengatasi berbagai persoalan di kawasan transmigrasi, baik dari sisi masyarakat maupun pengembangan kawasannya. Harapannya, kegiatan ini mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi sehingga kawasan transmigrasi dapat berkembang menjadi kawasan ekonomi baru yang lebih baik,” jelasnya.
Kepercayaan tersebut dijawab Universitas Brawijaya dengan mengirimkan dosen-dosen terbaik dari berbagai bidang kepakaran. Ketua Tim Universitas Brawijaya untuk Tim Ekspedisi Patriot 2026, Taufiq Ismail, S.S., S.E., M.M., Ph.D., menjelaskan bahwa seluruh peserta telah melalui proses seleksi nasional yang ketat, mulai dari seleksi abstrak hingga evaluasi oleh tim penilai yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Perguruan Tinggi Negeri lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Dosen yang lolos sebanyak 25 orang. Mereka telah melalui proses seleksi mulai dari abstrak hingga evaluasi nasional,” jelas Taufiq.
Sebanyak 20 dosen akan bertugas di Papua Barat Daya, sedangkan lima dosen lainnya ditempatkan di berbagai lokasi di Sulawesi Barat. Para dosen tersebut berasal dari berbagai fakultas, antaralain Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Fakultas Peternakan, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Keberagaman disiplin ilmu tersebut menjadi kekuatan UB dalam menjawab kebutuhan pembangunan kawasan transmigrasi yang bersifat multidimensional.
Menurut Taufiq, fokus kontribusi Universitas Brawijaya dalam Tim Ekspedisi Patriot diarahkan pada upaya memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pendekatan tersebut tidak hanya menitikberatkan pada peningkatan produksi, tetapi juga mencakup pengolahan hasil, literasi, edukasi, hingga aspek kesehatan agar pembangunan kawasan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Karena yang diminta oleh pemerintah adalah pemberdayaan ekonomi, maka fokus kami mulai dari pangan, pengolahan, hingga literasi, edukasi, dan kesehatan. Pemberdayaan ekonomi tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus didukung oleh produksi yang baik, pengolahan yang baik, serta peningkatan kapasitas masyarakat,” ungkapnya.
Sebelum diterjunkan ke lokasi penugasan, seluruh peserta akan mengikuti pembekalan nasional yang diselenggarakan Kementerian Transmigrasi bersama sembilan perguruan tinggi mitra lainnya. UB juga akan memberikan pembekalan internal mengenai mitigasi risiko, komunikasi masyarakat, pelaporan kegiatan, hingga strategi implementasi program agar pelaksanaan di lapangan berjalan efektif dan tepat sasaran.
Setibanya di kawasan transmigrasi, para dosen akan terlebih dahulu mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan memastikan program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. Evaluasi terhadap setiap kegiatan juga akan dilakukan untuk mengukur sejauh mana kontribusi yang diberikan mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!