Di Balik Kemewahan Liga Inggris: Kerugian Klub Membengkak
📅 Rabu, 06 Mei 2026, 06:00 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraLONDON, INGGRIS — Di tengah citra sebagai liga sepak bola paling kaya di dunia, Premier League (Liga Inggris) justru menghadapi paradoks finansial. Klub-klub peserta membukukan kerugian hampir 1 miliar dolar AS, sekitar 16 triliun rupiah, pada musim terakhir, memperlihatkan bagaimana ambisi prestasi di lapangan mengalahkan disiplin keuangan.
Pada musim 2024-2025, pendapatan gabungan klub mencapai rekor 6,8 miliar pound atau sekitar 136 triliun rupiah. Namun, angka fantastis itu tak mampu menutup laju pengeluaran yang melonjak akibat inflasi biaya transfer, gaji pemain, hingga komisi agen.
Kasus paling mencolok datang dari Chelsea. Klub asal London Barat itu mencatat kerugian sebelum pajak sebesar 262 juta pound (sekitar 5,2 triliun rupiah), menjadi yang terbesar dalam sejarah Liga Inggris. Strategi agresif dalam memborong talenta muda dari berbagai penjuru dunia menjadikan Chelsea simbol ekstrem dari tren yang kini meluas.
Situasi serupa juga dialami Tottenham Hotspur. Meski memiliki stadion modern multifungsi dan bahkan meraih gelar Liga Europa, klub London Utara itu tetap mencatat defisit 121 juta pound (sekitar 2,4 triliun rupiah). Ironisnya, Tottenham masih termasuk dalam jajaran klub terkaya dunia.
Jika bukan karena langkah-langkah “kreatif” dalam pembukuan, kondisi keuangan klub-klub ini bisa lebih suram. Newcastle United, misalnya, menjual stadion St James' Park ke perusahaan yang masih berada dalam jaringan kepemilikan yang sama untuk mencatat keuntungan. Sementara Everton dan Aston Villa melepas tim putri mereka demi memperbaiki neraca.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire menilai fenomena ini sebagai konsekuensi dari sistem yang mendorong belanja berlebihan. “Ini pada dasarnya perlombaan senjata. Klub saling bersaing dalam biaya transfer dan gaji pemain,” ujarnya.
Angka kerugian tersebut bahkan belum sepenuhnya mencerminkan belanja transfer musim panas lalu yang mencapai 3 miliar pound atau sekitar 60 triliun rupiah, rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Liverpool turut menjadi sorotan setelah menggelontorkan 125 juta pound (sekitar 2,5 triliun rupiah) untuk merekrut Alexander Isak, bagian dari total pengeluaran transfer sekitar 450 juta pound. Namun, investasi besar itu belum sepenuhnya berbuah hasil di lapangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, beban gaji pemain terus meroket hingga 4,4 miliar pound, naik 9 persen dibanding musim sebelumnya—melampaui pertumbuhan pendapatan yang hanya 7 persen. Biaya agen juga mencapai titik tertinggi baru, memicu kritik dari suporter yang di saat bersamaan harus menghadapi kenaikan harga tiket.
Dalam lanskap kompetisi yang semakin ketat, keberhasilan kini tak lagi sekadar soal trofi. Untuk musim kedua berturut-turut, setidaknya lima klub Inggris akan tampil di Liga Champions, kompetisi yang menjanjikan pemasukan besar.
Mulai musim depan, aturan finansial baru akan diberlakukan dengan membatasi biaya skuad maksimal 85 persen dari pendapatan, atau 70 persen bagi klub peserta kompetisi UEFA. Namun, kebijakan ini diperkirakan belum cukup efektif karena tidak mencakup biaya operasional yang musim lalu mencapai 1,9 miliar pound.
Terlepas dari kerugian besar, klub-klub Liga Inggris tetap menjadi aset premium. Miliarder Inggris Jim Ratcliffe mengakuisisi 27,7 persen saham Manchester United senilai 1,25 miliar pound (sekitarp25 triliun rupiah), yang menilai klub tersebut mencapai 90 triliun rupiah.
Penjualan Chelsea pada 2022 senilai sekitar 85 triliun rupiah kepada konsorsium pimpinan Todd Boehly dan Clearlake Capital semakin menegaskan tingginya valuasi klub Inggris.
Dominasi Manchester City sejak diambil alih keluarga kerajaan Abu Dhabi, serta masuknya dana kekayaan negara Saudi ke Newcastle United, menunjukkan bahwa kekuatan modal kini menjadi faktor utama dalam persaingan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!