Bisnis Berisik Berujung Manis: Perputaran Rp2 Triliun dari Hobi Burung Kicau Nasional
📅 Senin, 04 Mei 2026, 14:45 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohJAKARTA - Menteri Perdagangan Budi Santoso melihat potensi ekonomi besar dari aktivitas komunitas hobi yang selama ini kerap dipandang sebelah mata. Salah satu sektor yang kini dilirik pemerintah adalah ekosistem burung kicau yang dinilai mampu menciptakan efek berganda bagi pelaku usaha, terutama UMKM.
Hal itu disampaikan Budi Santoso saat membuka "Festival Lomba Burung Berkicau dan Kuliner UMKM" di lapangan parkir kantor Kementerian Perdagangan, Minggu (3/5). Acara tersebut digelar secara mandiri tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui kolaborasi Pelestari Burung Indonesia (PBI) dan Komunitas Burung Kicau Kemendag (Kemendag Bird Club).
Alih-alih hanya menyoroti kompetisi burung berkicau, Budi menekankan besarnya rantai ekonomi yang tercipta dari aktivitas hobi tersebut. Menurutnya, geliat komunitas burung dapat menghidupkan berbagai sektor usaha dari hulu hingga hilir.
"Kalau lomba burung berkicau semakin ramai, peternak burung akan semakin banyak. Begitu juga pembuat sangkar, pabrik pakan, peternak jangkrik sebagai makanan burung, hingga penjual burung akan semakin banyak," ujar Budi.
Ia menjelaskan, komunitas hobi dengan pasar yang spesifik justru memiliki peluang ekonomi besar jika dikelola secara serius. Pemerintah, kata dia, ingin mendorong semakin banyak komunitas hobi berkembang agar mampu menciptakan lapangan usaha baru.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, perputaran ekonomi dari ekosistem burung kicau di dalam negeri mencapai sekitar Rp1,7 triliun hingga Rp2 triliun per tahun. Nilai tersebut berasal dari bisnis penangkaran, produksi pakan, suplemen, aksesori, jasa pelatihan, hingga aktivitas perlombaan komunitas.
Tak hanya pasar domestik, ekspor burung hias asal Indonesia juga menunjukkan tren positif. Pada 2025, nilai ekspor burung hias mencapai sekitar Rp12,5 miliar atau naik 237,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Budi menegaskan, burung yang dilombakan dalam festival tersebut merupakan hasil penangkaran, bukan hasil tangkapan liar dari alam. Ia menilai hal tersebut penting untuk memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Yang dilombakan bukan burung liar, tapi burung ternak," katanya.
Dalam acara tersebut, Kemendag juga menghadirkan puluhan pelaku UMKM kuliner dan produk pendukung komunitas burung. Beragam makanan khas daerah, minuman, hingga produk sangkar lokal turut dipamerkan kepada pengunjung.
Ketua Umum PBI Pusat Bagiya Rahmadi mengatakan komunitas burung kicau juga memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan populasi melalui pembinaan penangkar. Menurutnya, kompetisi menjadi sarana memperkenalkan hasil penangkaran sekaligus menggerakkan ekonomi komunitas.
"Lomba burung bisa mengenalkan hasil produk dan dampaknya multiefek," ujar Bagiya.
Salah satu peserta lomba, Ismanto, mengaku optimistis hobi burung kicau bisa semakin berkembang. Ia menilai semakin banyak perlombaan akan membuka peluang bagi UMKM lokal untuk memperluas pasar produk mereka.
"UMKM bisa makin maju. Orang-orang jadi bisa tahu ada berbagai jenis kandang buatan lokal dari Jepara, Solo, dan sebagainya," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!